Apabila kita memperhatikan jalan yang kita lewati setiap hari, pasti ada terlintas pertanyaan dalam benak kita, “siapa tokoh yang diabadikan di jalan ini? apa alasannya? Toponomi jalan bukanlah sekadar penanda lokasi, tetapi mengandung sesuatu yang lebih dalam, yakni tentang bagaimana suatu kota memutuskan siapa yang berhak untuk terus diabadikan.
Pada tulisan ini, saya akan mencoba mengulik data nama-nama jalan di kawasan Jabodetabek dan menganalisnya untuk mengetahui mana jalan yang dinamai tokoh perempuan dan tokoh laki-laki.
Filosofis Nama Jalan
Nama jalan merupakan topik penting untuk dibicarakan. Menurut kajian onomastik dan geografi budaya, nama-nama jalan adalah penanda arah menuju sejarah dan sistem nilai suatu masyarakat atau “signpost to history” sehingga nama jalan bukan hanya sekadar alat navigasi. Jalan adalah identitas politik di berbagai konteks geokultural dan sejarah. Secara harafiah, nama jalan adalah simbolis penanaman nilai dominan suatau masyarakat, beserta ingatan sejarahnya, ke dalam lanskap (Rusu, 2022).
Mihai S. Rusu, sosiolog dari Lucian Blaga University of Sibiu, menyebutnya sebagai “topo-hegemonic masculinity” dimana kondisi dominasi laki-laki bukan hanya hidup dalam relasi sosial sehari-hari, tapi juga terukir secara harfiah ke dalam lanskap kota melalui pemberian nama jalan (Rusu, 2022). Penelitiannya di kota Sibiu, Romania, menemukan bahwa sepanjang kurun 1875 hingga 2020, hanya 4,70% dari nama-nama jalan eponimikal (yang merujuk pada seseorang) yang mengabadikan perempuan.
Jabodetabek? Keadaannya tidak begitu berbeda.
Apa yang Ditemukan di Jabodetabek
Melalui 1.212 nama-nama jalan yang dianlisis telah ditemukan 242 nama-nama jalan eponimikal dengan proporsi sebagai berikut:
-
Tokoh Laki-Laki: 224 nama jalan
-
Tokoh Perempuan: 18 nama jalan
Peta Distribusi Toponimi Jalan Berdasarkan Nama Tokoh di Jabodetabek
Nama-nama jalan yang termasuk kategori tokoh perempuan antara lain: Jalan R.A. Kartini, Jalan Hajjah R. Rasuna Said, Jalan Cut Nyak Dien, Jalan Cut Mutia, Jalan Dewi Sartika, Jalan Laksamana Malahayati, hingga Terowongan Kartini. Beberapa nama muncul dalam variasi berbeda yakni Jalan Kartini, Jalan RA. Kartini, Jalan Raya Kartini, Jalan Raden Ajeng Kartini. Hal ini menunjukkan bahwa satu tokoh yang sama bisa muncul dalam beberapa penamaan di lokasi berbeda.
Hal yang menarik, nama Kartini mendominasi. Dari 18 nama jalan tokoh perempuan, setidaknya empat di antaranya merujuk pada sosok yang sama: R.A. Kartini. Artinya, jika kita berbicara tentang keberagaman perempuan yang diabadikan, angkanya bahkan lebih kecil dari yang terlihat.
Bandingkan dengan sisi lain: 224 nama jalan tokoh laki-laki mencakup figur dari berbagai latar belakang yakni jenderal, dokter, ulama, politikus, pahlawan lokal, hingga raja-raja dari era kerajaan Nusantara. Ada Jenderal Sudirman, Ahmad Yani, MT Haryono, Dokter Saharjo, Tahi Bonar Simatupang, Hayam Wuruk, Gajah Mada, dan ratusan nama lainnya. Keragaman yang jauh lebih luas dan itu sendiri saja sudah menunjukan banyak hal.
Kenapa Perempuan Nyaris Tidak Ada
Ada beberapa hal yang bisa diperhatikan:
Pertama, ada hal tentang soal siapa yang dianggap layak diingat secara publik. Nama jalan, seperti yang diargumentasikan Rusu (2022), adalah instrumen dalam toolkit konstruksi identitas politik sebuah rezim. Ketika sebuah pemerintahan memutuskan siapa yang namanya akan diabadikan di jalan-jalan kota, keputusan itu tidak lahir dari ruang hampa tetapi ia lahir dari narasi kuat tentang siapa yang dianggap berjasa, heroik, dan layak dikenang. Secara historis, narasi itu selalu lebih mudah memberikan tempat kepada laki-laki.
Kedua, ada hal tentang soal bagaimana perempuan direpresentasikan dalam sejarah resmi. Penelitian di berbagai kota Eropa menunjukkan bahwa perempuan yang namanya diabadikan di jalan seringkali dikenal bukan karena pencapaian otonom mereka, melainkan karena hubungan mereka dengan laki-laki terkenal, sebagai istri, ibu, atau anak perempuan (Rusu, 2022). Di Jabodetabek, meski tokoh-tokoh seperti Rasuna Said dan Malahayati jelas diakui atas kontribusi mereka sendiri, kehadirannya di peta jalan tetap sangat minim.
Ketiga adalah hal yang paling mendasar, yakni soal struktur pengambilan keputusan itu sendiri. Siapa yang duduk di meja ketika nama jalan diputuskan? Jika ruang itu didominasi oleh perspektif tertentu, maka hasilnya pun akan mencerminkan perspektif tersebut.
Pola yang Sama di Berbagai Penjuru Dunia
Fenomena temuan tentang ketimpangan nama-nama jalan eponimikal terhadap perempuan di Jabodetabek ini juga terjadi di berbagai kota besar di Indonesia.
Di Bucharest, hanya 6,06% dari nama jalan eponimikal yang mengabadikan perempuan. Di Paris, 7,70%. Di Roma, 7,11%. Di Vienna, meski 64,40% dari seluruh nama jalan menggunakan nama orang, hanya 8,24% di antaranya yang merujuk pada perempuan (Rusu, 2022). Di Slovakia, sebuah studi terhadap delapan kota menemukan bahwa nama jalan perempuan hanya menyumbang 5% dari keseluruhan nama eponimikal dan di beberapa kota, tidak ada satu pun jalan yang dinamai setelah perempuan (Bucher et al., 2013, dalam Rusu, 2022).
Artinya, apa yang ditemukan di Jabodetabek bukan sekadar persoalan lokal semata. Ini adalah pola global dari bagaimana ruang publik termasuk nama-nama jalan secara sistematis lebih banyak mengabadikan laki-laki dibanding perempuan.
Rusu (2022) menyebutnya sebagai “masculine default” yakni sebuah prinsip tak tertulis yang menjadi pondasi dari cara kota-kota membangun ingatannya.
Arti dari Persoalan Ini
Fenomena penamaan jalan di kawasan metropolitan Jabodetabek tidak semata-mata dapat dipahami sebagai persoalan statistik atau administrasi kota. Di balik praktik tersebut, terdapat dimensi nilai dan representasi sosial yang lebih mendalam. Toponimi, dalam hal ini nama jalan, berfungsi sebagai medium simbolis yang membentuk memori kolektif masyarakat. Berbeda dengan monumen fisik yang terletak di lokasi tertentu, nama jalan hadir secara egaliter dalam ruang publik dan menjadi bagian dari interaksi sehari-hari jutaan orang. Justru karena sifatnya yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, ia memiliki daya yang signifikan dalam membangun ingatan kolektif.
Data menunjukkan bahwa 92,6% nama jalan di Jabodetabek yang diambil dari nama tokoh merujuk pada laki-laki. Ketimpangan ini menyampaikan pesan implisit bahwa kontribusi perempuan dianggap kurang layak untuk diabadikan dalam ruang publik. Oleh karena itu, sejarah yang tercermin melalui penamaan jalan menjadi parsial, menegaskan dominasi maskulinitas dalam konstruksi memori kolektif. Absennya representasi perempuan dalam papan nama jalan bukan sekadar kekosongan simbolis, melainkan juga bentuk eksklusi terhadap pengalaman dan pencapaian mereka dalam sejarah bangsa.
Oleh karena itu, kota yang berorientasi pada keadilan sosial perlu meninjau ulang praktik penamaan jalan sebagai instrumen representasi. Pertanyaan yang harus diajukan bukan hanya terkait siapa yang diabadikan, tetapi juga siapa yang selama ini tidak hadir dalam lanskap simbolik tersebut.
Kontribusi Data Demi Representasi Data yang Lebih Akurat
Terlepas dari kurangnya representasi perempuan dalam penamaan jalan, namun aspek kurangnya data spasial di wilayah urban tetaplah perlu dipertimbangkan. Kompleksitas lanskap urban mengakibatkan sulitnya pendataan komperhensif, utamanya dikarenakan kebanyakan data terkait penamaan jalan didapatkan via lapangan dan memerlukan konteks lokalitas bagi setiap daerah. Tak menutup kemungkinan, banyak data historis terkait tokoh-tokoh setempat yang tidak sempat terdata secara digital, yang kemudian diadopsi menjadi nama jalan-jalan lokal dan kecil di area tertentu, terutama tokoh perempuan. Atas dasar hal ini, kontribusi data lokal menjadi penting demi mengetahui representasi data secara akurat secara detail.
Fitur-fitur geotagging via web yang disediakan oleh platform openstreetmap dapat menjadi jawaban atas permasalahan tersebut. Openstreetmap yang menjadi wadah kontribusi data spasial, menyediakan fitur-fitur yang dapat diisi oleh pihak warga setempat yang lebih mengetahui konteks lokal suatu wilayah, utamanya dalam hal penamaan jalan setempat. Pemanfaatan dan sosialisasi kontribusi via OSM bagi warga lokal dapat menjadi langkah-langkah kedepan untuk melengkapi data spasial yang kurang, demi mendata dan mendapatkan aspek historis suatu wilayah lebih komperhensif, terutama memperhatikan betapa tidak imbangnya penamaan jalan dan historis perempuan pada umumnya.
Kontribusi OSM diharapkan dapat mengangkat tokoh-tokoh perempuan yang namanya tidak sempat tercatat dalam sejarah ataupun database penamaan jalan resmi, dan meningkatkan kualitas data secara komperhensif demi mendukung data spasial yang lebih representatif.
Penutup
Analisis dalam tulisan ini didasarkan pada data nama jalan kawasan Jabodetabek yang diperoleh dari OpenStreetMap, dengan total 1.212 nama jalan yang diklasifikasikan ke dalam tiga kategori: tokoh perempuan, tokoh laki-laki, dan lainnya. Kerangka teoretis mengacu pada artikel Rusu, Mihai S. (2022), “Gendering Urban Namescapes: The Gender Politics of Street Names in an Eastern European City”, Names: A Journal of Onomastics, Vol. 70, No. 2, Spring 2022, DOI: 10.5195/names.2022.2233.