Style | StandardCards

OpenStreetMap Blogs

Saturday, 23. May 2026

OpenStreetMap User's Diaries

Pemetaan Fasilitas Umum Responsif Gender

Keamanan dan Kenyamanan Perempuan di Ruang Publik Perhatian Fasilitas Publik terhadap Perempuan

Sebagai perempuan, saya sering merasa kurang nyaman ketika berada di ruang publik, apalagi jika tempat tersebut terlalu sepi atau minim penerangan. Kadang ada rasa takut ketika harus berjalan sendiri atau berada di tempat umum dalam waktu yang cukup lama. Apalagi sekarang cukup banyak berita mengena

Keamanan dan Kenyamanan Perempuan di Ruang Publik

Perhatian Fasilitas Publik terhadap Perempuan

Sebagai perempuan, saya sering merasa kurang nyaman ketika berada di ruang publik, apalagi jika tempat tersebut terlalu sepi atau minim penerangan. Kadang ada rasa takut ketika harus berjalan sendiri atau berada di tempat umum dalam waktu yang cukup lama. Apalagi sekarang cukup banyak berita mengenai pelecehan atau tindakan yang membuat perempuan merasa tidak aman ketika berada di luar rumah. Karena itu, menurut saya rasa aman dan nyaman bagi perempuan di ruang publik merupakan hal yang sangat penting.

Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan sering kali harus lebih berhati-hati dibandingkan laki-laki. Mulai dari memilih jalan yang ramai, menghindari tempat yang terlalu gelap, sampai selalu memperhatikan keadaan sekitar ketika berada di tempat umum. Hal-hal seperti itu sebenarnya cukup melelahkan karena perempuan jadi terbiasa merasa waspada setiap saat.

Menurut saya, fasilitas umum seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk melakukan aktivitas tertentu, tetapi juga mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi penggunanya. Namun kenyataannya, masih banyak fasilitas umum yang belum terlalu memperhatikan kebutuhan perempuan. Beberapa tempat umum masih memiliki area yang minim penerangan, ruang tunggu yang kurang nyaman, atau belum menyediakan fasilitas yang mendukung kebutuhan perempuan dan anak-anak.

Karena itu, saya mulai menyadari pentingnya fasilitas umum yang responsif terhadap gender. Menurut saya, fasilitas umum yang responsif gender bukan hanya tentang bangunan yang bagus atau modern, tetapi bagaimana tempat tersebut mampu memberikan kenyamanan, keamanan, dan perhatian terhadap kebutuhan perempuan.

Saat berkunjung ke RSUD Abdul Wahab Sjahranie, saya mulai melihat bahwa rumah sakit ini memiliki beberapa fasilitas yang menurut saya cukup mendukung kenyamanan perempuan. Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan, tetapi setelah melihat lingkungan rumah sakit dan fasilitas yang tersedia, saya merasa bahwa rumah sakit ini cukup nyaman bagi perempuan dan anak-anak.

Salah satu fasilitas yang paling menarik perhatian saya adalah adanya ruang menyusui atau ruang laktasi. Menurut saya, fasilitas tersebut sangat membantu ibu yang sedang menyusui karena mereka bisa merasa lebih nyaman dan memiliki privasi yang lebih baik. Tidak semua tempat umum menyediakan ruang seperti itu, sehingga keberadaan ruang laktasi menurut saya menjadi hal yang penting.

Saya merasa fasilitas seperti ini sebenarnya sangat dibutuhkan oleh perempuan, terutama ibu yang membawa bayi. Kadang masih ada perempuan yang kesulitan mencari tempat yang nyaman untuk menyusui anaknya ketika berada di tempat umum. Karena itu, ketika melihat adanya ruang laktasi di rumah sakit tersebut, saya merasa bahwa rumah sakit cukup memahami kebutuhan perempuan.

Selain ruang menyusui, rumah sakit ini juga memiliki ruang tunggu ibu dan anak yang cukup nyaman. Suasana ruangannya terasa lebih tenang dan tempat duduknya juga tertata dengan baik sehingga membuat pengunjung, terutama perempuan dan anak-anak, merasa lebih nyaman ketika menunggu pelayanan kesehatan. Hal sederhana seperti ini ternyata cukup membantu, terutama bagi ibu yang membawa anak kecil dan harus menunggu dalam waktu yang cukup lama.

Menurut saya, ruang tunggu yang nyaman juga sangat penting karena rumah sakit merupakan tempat yang sering membuat pengunjung merasa lelah atau khawatir. Dengan adanya ruang tunggu yang lebih nyaman bagi perempuan dan anak-anak, suasana rumah sakit jadi terasa lebih tenang dan tidak terlalu melelahkan bagi pengunjung.

Selain fasilitas tersebut, area rumah sakit juga memiliki penerangan yang cukup baik sehingga membuat lingkungan rumah sakit terasa lebih aman. Menurut saya, penerangan merupakan hal yang cukup penting bagi perempuan ketika berada di tempat umum. Area yang terang biasanya membuat perempuan merasa lebih tenang dibandingkan tempat yang terlalu gelap atau sepi.

Saya juga melihat adanya petugas keamanan di beberapa titik rumah sakit. Kehadiran petugas keamanan tersebut membuat pengunjung merasa lebih aman ketika berada di lingkungan rumah sakit. Walaupun terlihat sederhana, menurut saya keberadaan keamanan seperti itu sangat membantu perempuan merasa lebih nyaman ketika berada di ruang publik.

Selain fasilitas dan keamanan, pelayanan di rumah sakit ini juga menurut saya cukup baik. Dalam beberapa kondisi, perempuan memang membutuhkan rasa aman dan privasi ketika berkaitan dengan pelayanan kesehatan. Karena itu, menurut saya pelayanan yang ramah dan lingkungan yang nyaman juga menjadi bagian penting dari fasilitas umum yang responsif terhadap gender. Pengalaman ketika berada di rumah sakit tersebut membuat saya sadar bahwa fasilitas umum yang responsif terhadap gender sebenarnya memiliki dampak yang besar bagi perempuan. Kadang perempuan tidak membutuhkan hal yang terlalu berlebihan. Perempuan hanya ingin berada di tempat yang membuat mereka merasa aman, nyaman, dan dihargai.

Hal-hal sederhana seperti adanya ruang menyusui, ruang tunggu ibu dan anak, penerangan yang baik, serta lingkungan yang aman ternyata mampu memberikan rasa tenang bagi perempuan ketika berada di ruang publik. Menurut saya, perhatian seperti itu menunjukkan bahwa perempuan mulai mendapatkan perhatian yang lebih baik di fasilitas umum.

Saya juga merasa bahwa masih banyak ruang publik yang belum memberikan perhatian terhadap kebutuhan perempuan. Beberapa tempat umum bahkan masih minim fasilitas yang mendukung kenyamanan perempuan dan anak-anak. Karena itu, ketika melihat adanya fasilitas yang cukup responsif gender di RSUD Abdul Wahab Sjahranie, saya merasa bahwa hal tersebut sangat patut diapresiasi.

Walaupun mungkin masih ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan, setidaknya rumah sakit ini sudah menunjukkan adanya kepedulian terhadap perempuan melalui fasilitas yang tersedia. Menurut saya, perhatian terhadap perempuan sebenarnya dapat dimulai dari hal-hal kecil seperti menyediakan ruang yang nyaman, lingkungan yang aman, dan fasilitas yang mendukung kebutuhan perempuan.

Saya berharap ke depannya semakin banyak fasilitas umum di Samarinda yang memiliki perhatian seperti ini, bukan hanya rumah sakit tetapi juga tempat umum lainnya seperti kampus, terminal, taman kota, dan pusat perbelanjaan. Karena menurut saya, perempuan juga memiliki hak untuk merasa aman dan nyaman ketika berada di ruang publik.

Selain itu, saya berharap masyarakat juga semakin sadar bahwa rasa aman perempuan di ruang publik merupakan hal yang penting. Perempuan tidak seharusnya terus hidup dalam rasa takut ketika berada di luar rumah. Ruang publik seharusnya menjadi tempat yang nyaman untuk semua orang tanpa terkecuali.

Melalui pengalaman tersebut, saya merasa bahwa fasilitas umum yang responsif terhadap gender memang sangat penting karena dapat membuat perempuan merasa lebih aman, nyaman, dan dihargai ketika berada di ruang publik. Pada akhirnya, saya menyadari bahwa perhatian terhadap perempuan tidak selalu harus dilakukan melalui hal-hal besar. Terkadang perhatian kecil seperti menyediakan fasilitas yang nyaman dan lingkungan yang aman sudah mampu membuat perempuan merasa lebih tenang ketika berada di ruang publik.


Lomba Diary OSM (2407086010)

Pemetaan Keamanan Ruang Publik untuk Perempuan di Taman Samarendah Kota Samarinda

Halo semuanya perkenalkan saya Zahir Taufiq Umarah, seorang mahasiswa yang ingin membahas keamanan ruang publik untuk perempuan.

Permasalahan

Salah satu ruang publik di Kota Samarinda, yaitu Taman Samarendah, adalah taman terbuka hijau yang tiap hari pasti selalu ada pengunjungnya. Banyak orang berkunjung

Pemetaan Keamanan Ruang Publik untuk Perempuan di Taman Samarendah Kota Samarinda

Halo semuanya perkenalkan saya Zahir Taufiq Umarah, seorang mahasiswa yang ingin membahas keamanan ruang publik untuk perempuan.

Permasalahan

Salah satu ruang publik di Kota Samarinda, yaitu Taman Samarendah, adalah taman terbuka hijau yang tiap hari pasti selalu ada pengunjungnya. Banyak orang berkunjung kesana, ada yang melakukan lari atau jalan santai, jajan, berkumpul dengan teman, pasangan, atau keluarga, atau hanya sekadar duduk santai disana. Namun, salah satu permasalahan yang cukup penting menurut saya di tempat ini adalah, pencahayaan yang kurang pada saat malam hari. Karena pencahayaan yang kurang ini, saya takut para perempuan terutama yang pergi kesana sendirian, justru dapat perlakuan yang tidak pantas seperti pelecehan atau barang mereka dicopet oleh para oknum yang ada disana. Dengan pemetaan dari OpenStreetMap ini, diharapkan kita bisa memetakan titik titik yang gelap di daerah Taman Samarendah, setelah dilakukan penitikan kita bisa melaporkan ke pihak terkait untuk memperbaiki pencahayaan di titik titik tadi.

Penutup

Sebagai penutup, semoga apa yang saya sampaikan bisa diterapkan dan menjadi rekomendasi yang bermanfaat, dan juga supaya Taman Samarendah bisa menjadi ruang terbuka hijau yang aman bagi perempuan


Mengenal OpenStreetMap dan Belajar dari Perempuan di Dunia Pemetaan

Mengenal OSM dan belajar dari perempuan di dunia pemetaan

Sebagai mahasiswa ilmu lingkungan saya sering mendengar istilah peta dan data spasial dalam perkuliahan. Tapi jujur, saya sebelumnya tidak terlalu memahami bagaimana sebuah peta dibuat dan siapa saja yang berperan di dalamnya. Di pikiran saya peta hanya alat untuk menunjukkan lokasi atau mencari arah ketika kita jalan. Pandangan saya akan

Mengenal OSM dan belajar dari perempuan di dunia pemetaan

Sebagai mahasiswa ilmu lingkungan saya sering mendengar istilah peta dan data spasial dalam perkuliahan. Tapi jujur, saya sebelumnya tidak terlalu memahami bagaimana sebuah peta dibuat dan siapa saja yang berperan di dalamnya. Di pikiran saya peta hanya alat untuk menunjukkan lokasi atau mencari arah ketika kita jalan. Pandangan saya akan hal itu mulai berubah ketika saya mengenal OSM. Saya mengetahui OSM dari kelas pengurangan risiko bencana oleh bu melin, ternyata masyarakat biasa juga bisa ikut berkontribusi membuat dan memperbarui data peta secara bersama sama

OSM sebagai wadah berkontribusi

Perempuan khususnya para ibu-ibu, biasanya telah mengenal lokasi yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti posyandu, pasar, sekolah, tempat ibadah, maupun lokasi kegiatanwarga. Karena sering berinteraksi dengan lokasi serta fasilitas tersebut, mereka meiliki pengetahuan yang cukup baik mengenai kondisi lingkungan sekitar. Menurut saya, perempuan memiliki pengetahuan yang baik tentang lingkungan sekitar, seperti lokasi penduduk, sekolah, fasilitas kesehatan, dan berbagai kegiatan warga. Informasi tersebut sangat bermanfaat untuk melengkapi data peta agar lebih akurat dan sesuai dengan kondisi di lapangan.


Lomba Diary OSM International Women's Day

Pemetaan Partisipatif Berbasis Perempuan di OSM Ketika Sebuah Desa Tidak Ada di Peta: Awal Perjalanan Menjadi Relawan Pemetaan

Saya adalah seorang mahasiswi yang lahir di sebuah desa yang terletak di Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Desa ini ditandai dengan perkebunan kelapa sawit yang menutupi hampir seluruh wilayahnya, kawasan hutan yang masih dilestarikan, serta infrastruktu

Pemetaan Partisipatif Berbasis Perempuan di OSM

Ketika Sebuah Desa Tidak Ada di Peta: Awal Perjalanan Menjadi Relawan Pemetaan

Saya adalah seorang mahasiswi yang lahir di sebuah desa yang terletak di Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Desa ini ditandai dengan perkebunan kelapa sawit yang menutupi hampir seluruh wilayahnya, kawasan hutan yang masih dilestarikan, serta infrastruktur jalan yang sebagian besar masih terbuat dari batu. Jumlah fasilitas umum yang tersedia di wilayah ini relatif terbatas. Kondisi geografis tersebut menyulitkan identifikasi akses jalan secara jelas baik pada peta konvensional maupun digital. Komunitas pemukiman di desa ini juga sulit diamati dengan jelas melalui citra satelit, terutama karena tertutupi oleh lapisan awan yang cukup tebal. Selain itu, kepadatan penduduk di wilayah ini masih sangat rendah dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Infrastruktur jaringan telekomunikasi yang terbatas semakin menambah kesulitan dalam mendeteksi wilayah ini secara optimal melalui teknologi pemetaan berbasis satelit.

Ketika pertama kali diperkenalkan dengan OpenStreetMap (OSM) dalam mata kuliah Pengurangan Risiko Bencana, saya langsung mencoba mencari desa asal saya di platform tersebut. Saya berharap desa saya akan muncul dengan tingkat detail yang sama seperti Kota Samarinda yang padat penduduknya. Di peta digital, Kota Samarinda menampilkan bangunan dengan detail yang cukup baik, serta jaringan jalan yang mudah dikenali dan dilacak. Namun, kenyataan yang saya temui tidak sesuai dengan harapan awal saya. Saya hanya menemukan beberapa jalur yang fungsinya tidak dapat saya identifikasi apakah itu jalan atau bukan. Sementara itu, hanya nama desa saya yang terlihat jelas, tanpa detail spasial yang memadai. Ketika instruktur memberikan instruksi untuk mengedit OpenStreetMap dengan menambahkan titik, area, dan garis di wilayah Kota Samarinda, saya mulai mempertimbangkan kemungkinan untuk memberikan penanda yang lebih jelas dan akurat untuk desa tempat saya tinggal.

Setelah dosen menjelaskan metode pemetaan partisipatif menggunakan aplikasi Mapillary dan OSM Tracker, dan setelah saya mengamati bahwa di kota-kota besar terdapat banyak relawan yang berkontribusi dalam kegiatan pemetaan kebanyakan di antaranya adalah laki-laki saya memutuskan untuk menyelenggarakan kegiatan pemetaan serupa saat kembali ke desa saya selama libur semester. Namun demikian, saya masih diliputi kekhawatiran mengenai masalah koneksi internet yang mungkin saya hadapi di sana. Oleh karena itu, saya bertanya langsung kepada dosen apakah aplikasi OSM Tracker memerlukan koneksi internet yang baik agar dapat beroperasi dengan lancar. Ia kemudian menjelaskan bahwa koneksi internet hanya diperlukan saat pertama kali membuka aplikasi, dan bahwa kinerja aplikasi juga didukung oleh perangkat dengan spesifikasi teknis yang memadai.

Keyakinan Bahwa Perempuan Bisa dan Mampu Terlibat Dalam Pemetaan

Setelah mengamati lebih lanjut bahwa sebagian besar orang yang terlibat dalam kegiatan pemetaan adalah laki-laki, sebuah pertanyaan kritis muncul di benak saya apakah karena dominasi laki-laki di bidang ini sehingga perempuan tidak mampu atau tidak diizinkan untuk berpartisipasi dalam pemetaan? Sebelum saya menemukan OpenStreetMap, saya sudah terbiasa melihat peta, menjelajahi berbagai jalan, dan memverifikasi alamat yang rencananya akan saya kunjungi menggunakan Google Maps. Secara pribadi, saya tidak setuju dengan anggapan umum bahwa perempuan tidak mampu membaca peta. Saya adalah seorang perempuan yang mampu membaca peta saat mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya bersama teman-teman saya. Kami akhirnya mencapai tujuan meskipun sesekali terjadi kesalahan kecil dalam menafsirkan peta. Namun, kesalahan-kesalahan tersebut tidak pernah menjadi hambatan yang signifikan untuk melanjutkan pencarian dan menemukan tempat-tempat yang ingin kami kunjungi.

Saya sangat yakin bahwa perempuan juga dapat berperan aktif dalam kegiatan pemetaan. Keyakinan ini didasarkan pada fakta bahwa perempuan memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang lingkungan sekitarnya. Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan sering mengunjungi pasar, sekolah, tempat ibadah, dan puskesmas, serta melintasi jalan-jalan kecil yang mereka lewati setiap hari. Detail-detail kecil seperti ini mungkin sering terlewatkan oleh banyak orang, tetapi sebenarnya memiliki nilai yang signifikan untuk dimasukkan ke dalam peta. Dengan memasukkan elemen-elemen ini, suatu wilayah menjadi lebih mudah dikenali oleh masyarakat umum. Akibatnya, orang-orang dari luar wilayah tersebut dapat melihat bahwa masih ada komunitas yang tinggal dan melakukan aktivitas di wilayah tersebut.

Melalui proses belajar saya bersama OpenStreetMap, saya menyadari bahwa peta bukanlah entitas yang statis sebaliknya, peta terus berubah dan berkembang seiring dengan kontribusi komunitas. Semakin banyak orang yang ikut serta dalam kegiatan pemetaan, semakin lengkap dan akurat pula informasi geospasial yang tersedia di peta tersebut. Saya berharap semakin banyak perempuan yang memiliki keberanian dan kemauan untuk mencoba kegiatan pemetaan. Perempuan memiliki perspektif yang berbeda dalam mengamati dan memahami lingkungan sekitarnya, dan perspektif tersebut merupakan aset berharga dalam upaya memperbaiki peta. OpenStreetMap bukan sekadar tugas kuliah atau sekadar alat teknologi, tetapi juga sarana untuk membuat suatu wilayah lebih dikenal dan terlihat oleh banyak orang. Saya merasa sangat bahagia dan terinspirasi mengetahui bahwa orang biasa, termasuk saya sendiri, dapat berkontribusi dalam membuat peta menjadi lebih lengkap dan bermanfaat.

Pengalaman kecil yang saya alami ini kemudian menumbuhkan kesadaran baru dalam diri saya bahwa daerah-daerah terpencil pun tetap memiliki prioritas tinggi untuk dipetakan. Hingga saat ini, peta sering kali hanya dikaitkan dengan jalan-jalan utama atau gedung-gedung tinggi di kawasan perkotaan. Pada kenyataannya, peta seharusnya juga mencakup desa-desa kecil seperti tempat saya tinggal, meskipun saat ini desa tersebut belum terlihat dengan jelas di peta digital. Jalan-jalan kecil yang mengarah ke rumah penduduk, akses ke kebun, lokasi masjid, sekolah, toko-toko kecil, tempat berkumpulnya masyarakat, fasilitas rumah sakit, dan bahkan jembatan-jembatan kecil sebenarnya memainkan peran yang sangat penting untuk dimasukkan ke dalam peta. Bagi orang-orang yang tinggal di daerah perkotaan, elemen-elemen ini mungkin tampak biasa dan tidak istimewa. Namun, bagi masyarakat pedesaan, informasi spasial ini sangat membantu, terutama ketika orang luar mengunjungi desa atau selama keadaan darurat yang membutuhkan akses yang cepat dan akurat.

Ketika nanti saya kembali ke kampung halaman, saya sangat ingin mencoba mendokumentasikan beberapa jalan atau lokasi penting menggunakan aplikasi OSM Tracker dan Mapillary. Saya sangat menyadari bahwa koneksi internet di desa saya mungkin tidak selalu bagus atau stabil. Saya juga menyadari bahwa pengetahuan teknis saya tentang OpenStreetMap masih cukup terbatas. Meskipun demikian, saya ingin mencoba memulai proyek ini secara perlahan, tanpa terburu-buru. Tentu saja saya tidak akan bisa memetakan seluruh area desa sekaligus, tetapi saya yakin setidaknya saya bisa membantu menunjukkan bahwa desa saya memang benar-benar ada secara fisik dan dihuni oleh orang-orang yang menjalani kehidupan sehari-hari mereka.

Saya juga pernah secara langsung menyaksikan seseorang tersesat saat mencari alamat karena peta yang digunakannya tidak menampilkan jalan tersebut dengan jelas. Terkadang, ada ruas jalan yang secara fisik dapat dilalui baik oleh kendaraan maupun pejalan kaki, namun tidak tercantum di peta. Akibatnya, orang tersebut harus bertanya langsung kepada penduduk setempat untuk menemukan tujuannya. Menurut saya, situasi seperti ini telah membuat saya semakin menyadari betapa pentingnya pemetaan partisipatif, terutama untuk daerah-daerah yang jauh dari pusat-pusat perkotaan besar. Saya berharap di masa depan, lebih banyak orang dan terutama lebih banyak perempuan akan memiliki minat dan keberanian untuk belajar tentang pemetaan.

Menurut saya, perempuan juga mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam kegiatan ini. Perempuan tidak perlu takut untuk mencoba hal-hal baru hanya karena sebagian besar komunitas pemetaan saat ini terdiri dari laki-laki. Selama ada kemauan yang tulus untuk belajar dan berkontribusi, setiap individu, tanpa memandang jenis kelamin, dapat berpartisipasi dalam upaya menciptakan peta yang lebih baik dan lebih inklusif. OpenStreetMap telah memberi saya pengalaman baru yang tak ternilai harganya: bahwa peta bukan sekadar gambar yang menunjukkan jalan dan bangunan, tetapi juga cerminan kehidupan masyarakat yang tinggal di suatu daerah. Melalui peta, orang lain dapat mengetahui akses jalan, ketersediaan fasilitas umum, dan bahkan keberadaan sebuah desa. Oleh karena itu, saya berharap desa-desa kecil seperti tempat saya tinggal dapat menjadi lebih terlihat dan lebih dikenal oleh dunia luar melalui upaya pemetaan kolektif dan berkelanjutan yang dilakukan oleh komunitas itu sendiri.

Penutup

Demikian catatan harian OSM saya. Semoga tulisan ini dapat menggugah pembaca terutama para perempuan di daerah terpencil untuk ikut berkontribusi dalam pemetaan, sekecil apa pun. Karena setiap titik, garis, dan area yang kita tambahkan di peta adalah bukti bahwa desa kita ada, dihuni, dan layak untuk dikenal.


Lomba Diary OSM (2407086010)

Keamanan Ruang Publik untuk Perempuan di Taman Samarendah Kota Samarinda

Halo semuanya perkenalkan saya Zahir Taufiq Umarah, seorang mahasiswa yang ingin membahas keamanan ruang publik untuk perempuan.

Permasalahan

Salah satu ruang publik di Kota Samarinda, yaitu Taman Samarendah, adalah taman terbuka hijau yang tiap hari pasti selalu ada pengunjungnya. Banyak orang berkunjung kesana, ad

Keamanan Ruang Publik untuk Perempuan di Taman Samarendah Kota Samarinda

Halo semuanya perkenalkan saya Zahir Taufiq Umarah, seorang mahasiswa yang ingin membahas keamanan ruang publik untuk perempuan.

Permasalahan

Salah satu ruang publik di Kota Samarinda, yaitu Taman Samarendah, adalah taman terbuka hijau yang tiap hari pasti selalu ada pengunjungnya. Banyak orang berkunjung kesana, ada yang melakukan lari atau jalan santai, jajan, berkumpul dengan teman, pasangan, atau keluarga, atau hanya sekadar duduk santai disana. Namun, salah satu permasalahan yang cukup penting menurut saya di tempat ini adalah, pencahayaan yang kurang pada saat malam hari. Karena pencahayaan yang kurang ini, saya takut para perempuan terutama yang pergi kesana sendirian, justru dapat perlakuan yang tidak pantas seperti pelecehan atau barang mereka dicopet oleh para oknum yang ada disana. Dengan pemetaan dari OpenStreetMap ini, diharapkan kita bisa memetakan titik titik yang gelap di daerah Taman Samarendah, setelah dilakukan penitikan kita bisa melaporkan ke pihak terkait untuk memperbaiki pencahayaan di titik titik tadi.

Penutup

Sebagai penutup, semoga apa yang saya sampaikan bisa diterapkan dan menjadi rekomendasi yang bermanfaat, dan juga supaya Taman Samarendah bisa menjadi ruang terbuka hijau yang aman bagi perempuan.


Pemetaan Fasilitas Umum Responsif Gender

Pemetaan Fasilitas Umum Responsif Gender Pemanfaatan Ruang Publik yang Nyaman bagi Perempuan di Taman Cerdas Samarinda.

Halo, dalam memperingati Hari Perempuan Nasional, saya melakukan kegiatan pemetaan fasilitas umum di Taman Cerdas Samarinda menggunakan OpenStreetMap (OSM) untuk melihat bagaimana ruang publik dapat memberikan kenyamanan dan rasa aman bagi perempuan, anak-anak, dan keluarga.<

Pemetaan Fasilitas Umum Responsif Gender

Pemanfaatan Ruang Publik yang Nyaman bagi Perempuan di Taman Cerdas Samarinda.

Halo, dalam memperingati Hari Perempuan Nasional, saya melakukan kegiatan pemetaan fasilitas umum di Taman Cerdas Samarinda menggunakan OpenStreetMap (OSM) untuk melihat bagaimana ruang publik dapat memberikan kenyamanan dan rasa aman bagi perempuan, anak-anak, dan keluarga.

Hari ini saya pergi ke Taman Cerdas Samarinda untuk mengerjakan tugas mata kuliah Pengurangan Risiko Bencana menggunakan OpenStreetMap atau OSM. Saya memilih tempat ini karena Taman Cerdas adalah salah satu taman kota yang cukup ramai dikunjungi masyarakat dan memiliki banyak fasilitas umum yang digunakan oleh perempuan, anak-anak, dan keluarga. Saya datang pada sore hari karena pada jam tersebut taman biasanya mulai ramai sehingga lebih mudah melihat aktivitas masyarakat dan kondisi fasilitas yang ada di sekitar taman.

Saat saya sampai di lokasi, keadaan taman terlihat cukup nyaman dan sejuk karena terdapat banyak pohon dan area terbuka hijau. Banyak masyarakat datang bersama keluarga, teman, maupun anak-anak mereka untuk bersantai dan menikmati suasana sore. Di sekitar taman terlihat anak-anak bermain, ada juga masyarakat yang duduk santai sambil saling berbicara, serta beberapa orang yang berjalan kaki dengan santai sambil mengelilingi taman. Suasana taman yang ramai membuat taman ini terasa cukup aman dan nyaman untuk dikunjungi.

Saya mulai berjalan mengelilingi taman sambil melihat fasilitas yang tersedia di lokasi tersebut. Hal pertama yang saya lihat yaitu jalur pejalan kaki yang ada di sekitar taman. Jalur ini cukup membantu masyarakat yang datang untuk berjalan santai maupun berolahraga ringan. Kondisinya sudah cukup baik walaupun pada beberapa bagian terasa sedikit sempit ketika pengunjung sedang ramai. Banyak pengunjung menggunakan jalur tersebut untuk berjalan bersama keluarga maupun teman. Menurut saya, keberadaan jalur pejalan kaki sangat penting karena membuat masyarakat lebih nyaman saat berada di taman, terutama perempuan, anak-anak, dan orang tua.

Di bagian lain taman terdapat area bermain anak yang cukup ramai digunakan. Banyak anak-anak bermain ayunan dan permainan lainnya sambil didampingi orang tua mereka. Sebagian besar yang menemani anak-anak bermain adalah ibu mereka. Area bermain ini menjadi salah satu bagian taman yang paling ramai karena banyak keluarga berkumpul di sekitar lokasi tersebut. Saya merasa area bermain anak cukup penting karena membuat taman menjadi tempat yang nyaman untuk keluarga menghabiskan waktu bersama.

Selain area bermain anak, terdapat juga beberapa tempat duduk yang digunakan pengunjung untuk beristirahat. Banyak orang duduk sambil berbincang, melihat anak-anak bermain, atau hanya menikmati suasana taman pada sore hari. Tempat duduk ini membantu pengunjung agar bisa beristirahat dengan nyaman tanpa harus duduk di sembarang tempat pada taman. Walaupun begitu, ketika taman sedang sangat ramai, jumlah tempat duduk terlihat masih kurang karena beberapa pengunjung memilih duduk di pinggir taman.

Saat hari mulai sore menjelang malam, saya mulai memperhatikan kondisi lampu taman. Di beberapa bagian, lampu sudah cukup terang sehingga pengunjung masih nyaman beraktivitas di sekitar taman. Namun, ada juga beberapa sudut taman yang terlihat lebih gelap dibandingkan area lainnya. Menurut saya, kondisi pencahayaan sangat penting karena berhubungan dengan rasa aman masyarakat, terutama perempuan ketika berada di ruang publik pada malam hari. Area yang terang biasanya terasa lebih nyaman dibandingkan area yang terlalu sepi dan kurang pencahayaan.

Di sekitar taman juga terdapat toilet umum yang dapat digunakan pengunjung. Keberadaan toilet sangat membantu masyarakat, terutama perempuan dan anak-anak yang berada cukup lama di taman. Kondisi toilet masih dapat digunakan walaupun kebersihannya tetap perlu dijaga agar pengunjung merasa lebih nyaman. Selain toilet, terdapat juga area parkir yang digunakan masyarakat yang datang menggunakan kendaraan. Area parkir cukup ramai pada sore hari karena banyak masyarakat berkunjung ke taman.

Selama berada di taman, saya melihat bahwa suasana tempat ini cukup hidup karena banyak aktivitas masyarakat. Ada yang berjalan santai, bermain bersama anak, berfoto, maupun hanya duduk menikmati suasana sore. Menurut saya, taman yang ramai seperti ini membuat pengunjung merasa lebih aman karena banyak orang berada di sekitar lokasi. Suasana berbeda mungkin akan terasa ketika malam semakin larut dan jumlah pengunjung mulai berkurang. Oleh karena itu, fasilitas seperti lampu taman dan kebersihan lingkungan tetap penting untuk diperhatikan agar masyarakat tetap merasa nyaman saat berada di taman.

Saat mengerjakan tugas OSM ini, saya juga belajar bahwa ruang publik memiliki fungsi yang cukup penting bagi masyarakat perkotaan. Taman bukan hanya digunakan sebagai tempat rekreasi, tetapi juga menjadi tempat masyarakat berkumpul dan melakukan aktivitas bersama keluarga. Fasilitas yang ada di taman dapat memengaruhi kenyamanan masyarakat ketika menggunakan ruang publik tersebut. Jika fasilitasnya baik dan terawat, masyarakat tentu akan merasa lebih nyaman untuk datang dan beraktivitas di sana.

Selain melihat fasilitas umum, saya juga memperhatikan kondisi kebersihan taman. Secara umum kondisi taman cukup bersih walaupun pada beberapa bagian masih terlihat sampah plastik dan botol minuman yang ditinggalkan pengunjung. Tempat sampah sebenarnya sudah tersedia di beberapa titik, namun masih ada masyarakat yang belum menjaga kebersihan dengan baik. Menurut saya, kebersihan taman juga sangat penting karena memengaruhi kenyamanan pengunjung saat berada di ruang publik. Taman yang bersih tentu membuat masyarakat merasa lebih nyaman untuk duduk, berjalan santai, maupun membawa anak-anak bermain.

Saya juga melihat beberapa pedagang kecil yang berjualan makanan dan minuman di sekitar taman. Keberadaan pedagang membuat suasana taman terasa lebih hidup karena banyak pengunjung membeli jajanan sambil menikmati suasana sore. Banyak keluarga duduk bersama sambil makan dan berbincang di sekitar taman. Aktivitas seperti ini menunjukkan bahwa taman memiliki fungsi sosial yang cukup penting bagi masyarakat sebagai tempat berkumpul dan berinteraksi dengan orang lain.

Melalui tugas yang diberikan dosen pengampu, saya sebagai mahasiswa ilmu lingkungan jadi lebih memahami kondisi fasilitas umum yang ada di sekitar lingkungan perkotaan, terutama fasilitas yang digunakan perempuan dan keluarga. Taman Cerdas Samarinda menurut saya sudah cukup baik sebagai ruang publik karena memiliki area bermain anak, tempat duduk, jalur pejalan kaki, toilet umum, dan suasana yang cukup nyaman dan aman. Walaupun masih ada beberapa bagian yang perlu diperbaiki seperti pencahayaan dan kebersihan, taman ini tetap menjadi salah satu tempat yang nyaman digunakan masyarakat untuk berkumpul dan beraktivitas bersama keluarga pada sore hari. Keberadaan taman seperti ini juga membantu masyarakat untuk memiliki tempat bersantai di tengah suasana kota yang cukup ramai dan padat aktivitas. Banyak masyarakat memanfaatkan taman untuk melepas penat setelah bekerja, bekuliah maupun setelah melakukan kegiatan sehari-hari. Anak-anak juga memiliki tempat bermain yang lebih aman dibandingkan bermain di jalanan atau area yang kurang nyaman. Menurut saya, ruang terbuka hijau seperti Taman Cerdas memiliki manfaat yang cukup besar bagi masyarakat karena selain menjadi tempat rekreasi, taman juga membantu menciptakan lingkungan yang lebih sejuk dan nyaman untuk dikunjungi bersama keluarga maupun teman, sekian yang dapat saya sampaikan pada catatan harian ini kurang dan lebihnya mohon maaf, Terima Kasih.


LOMBA DIARY OSM INTERNATIONAL WOMAN'S DAYS

Perempuan Membutuhkan Ruang Aman Dalam OpenStreetMap ang Bukan Sekedar Peta Betapa Pentingnya Keamanan bagi para Perempuan

Bagi saya rasa aman bukan sekedar rasa yang bisa dirasakan bagi para perempuan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Banyak perempuan yang merasakan rasa tidak aman di luar rumah, bukannya tempat umum seharusnya membuat semua orang merasa nyaman?. Namun akhir-akhir ini ba

Perempuan Membutuhkan Ruang Aman Dalam OpenStreetMap ang Bukan Sekedar Peta

Betapa Pentingnya Keamanan bagi para Perempuan

Bagi saya rasa aman bukan sekedar rasa yang bisa dirasakan bagi para perempuan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Banyak perempuan yang merasakan rasa tidak aman di luar rumah, bukannya tempat umum seharusnya membuat semua orang merasa nyaman?. Namun akhir-akhir ini banyak sekali timbul keresahan yang dirasakan bagi para perempuan yang berada di luar rumah.

Dari banyaknya berita yang bermunculan di media sosial tentang aksi pelecehan secara verbal dan tindakan mencurigakan hingga kekerasan yang membuat perempuan merasa harus selalu berwaspada ketika berpergian Kondisi tersebut membuat saya menyadari bahwa perempuan sering kali memiliki pengalaman yang berbeda ketika berada di ruang publik dibandingkan dengan orang lain. Hal-hal sederhana seperti memilih jalan untuk dilewati, mencari tempat yang ramai, atau memastikan lokasi memiliki penerangan yang cukup menjadi pertimbangan penting sebelum bepergian.

Menurut saya, toilet umum dan jalan yang minim pencahayaan masih menjadi ruang publik yang kurang ramah bagi perempuan. Maraknya kasus kamera tersembunyi di toilet serta kondisi jalan yang sepi membuat banyak perempuan merasa tidak aman ketika beraktivitas di luar rumah, terutama pada malam hari.

Dari keresahan tersebut, saya mulai memahami bahwa pemetaan memiliki peran penting dalam membantu masyarakat mengenali area yang lebih aman untuk dilalui. Saya kemudian mengenal OpenStreetMap sebagai platform pemetaan terbuka yang memungkinkan masyarakat menambahkan informasi mengenai fasilitas umum dan kondisi ruang publik.

Melalui OpenStreetMap, saya menyadari bahwa peta bukan hanya tentang lokasi, tetapi juga tentang pengalaman dan rasa aman. Menurut saya, perempuan juga memiliki peran penting dalam pemetaan karena sudut pandang perempuan dapat membantu menciptakan ruang publik yang lebih aman dan inklusif.


Problem with foot=no on lawfully forbidden streets(Train-Crossing). not verifiable on the Ground

Hello, just a collection before putting it into a purposal

so there are many issues about walk=no at Gleisanlagen. Each enities pushing it to not my problem.

  1. Routers need it to avoid Tracking through have traffic with separate sidewalks
  2. Openstreetmap verifable on the spot
  3. Historie of foot=no is changing in wikipedia.
  4. StreetComplete is aski

Hello, just a collection before putting it into a purposal

so there are many issues about walk=no at Gleisanlagen. Each enities pushing it to not my problem.

  1. Routers need it to avoid Tracking through have traffic with separate sidewalks
  2. Openstreetmap verifable on the spot
  3. Historie of foot=no is changing in wikipedia.
  4. StreetComplete is asking if its forbidden, not if its forbidden by sign.
  5. Just use access.

Reasons:

  1. “Just use a better Router”,
  2. Street-Speed-Limit is also not verifable on the Ground.
  3. osm.wiki/DE:Key:foot
  4. https://community.openstreetmap.org/t/poll-should-streetcomplete-disable-the-are-pedestrians-forbidden-to-walk-on-this-road-without-sidewalk-here-quest-in-the-uk/118387
  5. No router is picking it up

Perfect solution: https://github.com/streetcomplete/StreetComplete/issues/2472 Are pedestrians legally prohibited from walking here according to a road sign?”

https://community.openstreetmap.org/t/foot-no-oft-falsch-erfasst-durch-streetcomplete-quest/95470/6

https://community.openstreetmap.org/t/falsches-gefahrliches-fussgangerrouting-durch-sidewalk-tagging-anderbar/130145

https://community.openstreetmap.org/t/foot-no-prohibited-impossible/5135/25

https://www.gesetze-im-internet.de/stvo_2013/__25.html (5) Gleisanlagen


Lomba Diary OSM (International Women's Day

Peran OpenStreetMap Dalam Mendukung Ruang Publik Ramah Perempuan

## Membangun Kota Yang Aman

  • Menurut saya, ruang publik tidak hanya berupa taman atau jalan umum, tetapi juga tempat ibadah yang digunakan masyarakat setiap hari. Salah satu tempat yang memberikan rasa nyaman bagi perempuan adalah Masjid Assa’id. Lingkungan masjid yang bersih, tertata rapi, dan mudah dijangka

Peran OpenStreetMap Dalam Mendukung Ruang Publik Ramah Perempuan

## Membangun Kota Yang Aman

  • Menurut saya, ruang publik tidak hanya berupa taman atau jalan umum, tetapi juga tempat ibadah yang digunakan masyarakat setiap hari. Salah satu tempat yang memberikan rasa nyaman bagi perempuan adalah Masjid Assa’id. Lingkungan masjid yang bersih, tertata rapi, dan mudah dijangkau membuat masyarakat merasa lebih nyaman ketika beraktivitas di sana. Fasilitas yang tersedia juga cukup mendukung kegiatan ibadah maupun kegiatan sosial lainnya.

  • Keberadaan informasi lokasi yang lengkap sangat membantu masyarakat, terutama perempuan, untuk menemukan tempat yang aman dan nyaman. Melalui OpenStreetMap, masyarakat dapat melihat lokasi masjid, akses menuju tempat tersebut, serta fasilitas yang tersedia di sekitarnya. Informasi seperti ini sangat bermanfaat, khususnya bagi pendatang yang belum mengenal wilayah Samarinda.

  • Saya berharap semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap pemetaan digital agar informasi ruang publik dapat terus diperbarui dan memberikan manfaat bagi banyak orang.


Women's in OSM

Women’s Day in OSM: Ruang Aman untuk Perempuan di Era Modern

Manifestasi nyata dari terciptanya ruang aman ini dapat kita temukan di lingkungan akademis Universitas Mulawarman, salah satunya melalui keberadaan Taman Gerbang Unmul atau yang akrab disapa “Bundaran Germul”. Tempat ini tidak sekadar berfungsi sebagai area fisik bagi mahasiswa dan mahasiswi untuk melepas penat sembari menikmati senj

Women’s Day in OSM: Ruang Aman untuk Perempuan di Era Modern

Manifestasi nyata dari terciptanya ruang aman ini dapat kita temukan di lingkungan akademis Universitas Mulawarman, salah satunya melalui keberadaan Taman Gerbang Unmul atau yang akrab disapa “Bundaran Germul”. Tempat ini tidak sekadar berfungsi sebagai area fisik bagi mahasiswa dan mahasiswi untuk melepas penat sembari menikmati senja. Lebih dari itu, tempat ini tidak sekadar berfungsi area fisik bagi mahasiswa dan mahasiswi untuk melepas penat sembari menikmati senja. Lebih dari itu, tempat ini telah bertransformasi menjadi ruang sosial yang inklusif dan demokratis. Di sinilah Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Mulawarman (BEM KM Unmul) menyelenggarakan agenda Women’s Day. Melalui apresiasi simbolis berupa pemberian bunga kepada setiap perempuan yang hadir, gerakan ini berhasil merebut kembali ruang publik yang selama ini didominasi narasi maskulin, mengubahnya menjadi sebuah ruang apresiasi yang humanis dan penuh penghormatan. Upaya progresif ini selaras dengan iklim akademis Universitas Mulawarman yang senantiasa menuntut ruang aman bagi kelompok rentan serta perlindungan hak-hak substansif warga negara. Sebagai salah satu pengguna aktif fasilitas publik ini, saya merasakan secara langsung esensi dari sebuah ruang aman yang sejati. Bundaran Germul bukan sekadar taman biasa, melainkan sebuah ekosistem sosial di mana para penggunanya memiliki kesadaran moral bersama bahwa perempuan bukanlah objek visual maupun seksual. Rasa aman dan nyaman yang hadir di tempat ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan buah dari konsensus kolektif masyarakat akademis yang memahami bahwa kehormatan perempuan harus dijaga, dan ruang publik harus ramah bagi semua gender tanpa ada rasa takut akan perundungan ataupun pelecehan.


Datang Sebelum Gelap, Pulang Sesudah Gelap Cerita Mahasiswa FMIPA Unmul dan Pentingnya Pemetaan Ruang Aman untuk Perempuan

Jam di layar ponsel menunjukkan pukul 06.55 pagi ketika Sara memarkir sepeda motornya di dekat gedung Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Mulawarman. Matahari baru naik sepenuhnya, tetapi area kampus sudah ramai oleh mahasiswa yang bergegas menuju kelas. Hari itu jadwal kuliahnya padat. Kelas pertama dimulai pukul 07.30 pagi dan praktikum terakhir baru selesai sekitar pukul

Jam di layar ponsel menunjukkan pukul 06.55 pagi ketika Sara memarkir sepeda motornya di dekat gedung Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Mulawarman. Matahari baru naik sepenuhnya, tetapi area kampus sudah ramai oleh mahasiswa yang bergegas menuju kelas. Hari itu jadwal kuliahnya padat. Kelas pertama dimulai pukul 07.30 pagi dan praktikum terakhir baru selesai sekitar pukul 20.30 malam. Bagi mahasiswa FMIPA, jadwal seperti itu bukan hal aneh. Dalam sehari, mahasiswa bisa berpindah dari gedung kuliah ke laboratorium, lalu kembali lagi mengerjakan laporan praktikum sambil mengejar deadline. Namun buat sebagian mahasiswi, ada satu hal lain yang juga sering kepikiran selain tugas dan laporan praktikum: bagaimana caranya pulang dengan aman malam itu. Kampus yang Sama, Pengalaman yang Berbeda Semua mahasiswa sebenarnya melewati area kampus yang sama. Jalan yang sama, parkiran yang sama, dan gedung yang sama. Tapi rasa yang dirasakan tiap orang bisa berbeda, terutama ketika hari mulai malam. Ketika jam menunjukkan pukul 16.30 sore dan langit Samarinda mulai mendung, mahasiswa laki-laki mungkin hanya memikirkan apakah jalan sedang macet atau tidak. Sementara beberapa mahasiswi mulai mikir hal lain. Apakah jalan menuju halte cukup ramai? Apakah lampu di belakang laboratorium sudah menyala? Apakah lebih aman lewat jalur depan fakultas atau memutar lewat parkiran utama? Apakah ada teman yang bisa pulang bersama? Hal-hal seperti itu mungkin terdengar sepele, tapi nyata dirasakan hampir setiap hari. Di lingkungan kampus yang aktivitasnya padat sejak pagi hingga sore, rasa aman menjadi bagian penting dari kehidupan mahasiswa. Dan sayangnya, rasa aman sering kali tidak masuk dalam peta. Ketika Peta Hanya Menunjukkan Jalan Jika membuka aplikasi peta biasa, kita memang dapat menemukan lokasi FMIPA Unmul, ruang kelas, atau rute tercepat menuju gerbang kampus. Tetapi peta digital umumnya hanya menunjukkan posisi dan jarak. Peta tidak menunjukkan bahwa jalan di samping laboratorium terasa gelap ketika hujan turun. Peta tidak memberi tahu bahwa trotoar menuju halte sering tergenang setelah hujan. Peta juga tidak menunjukkan area mana yang tetap ramai ketika sore dan area mana yang mulai sepi. Padahal, informasi seperti itu sangat penting, terutama bagi perempuan. Menurut saya, di sinilah OpenStreetMap atau OSM jadi menarik. OpenStreetMap memungkinkan siapa saja menambahkan data berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Artinya, mahasiswa sendiri bisa ikut memetakan lingkungan kampus mereka. Bukan hanya gedung dan jalan. Tapi juga pengalaman sehari-hari mahasiswa di kampus. Membayangkan FMIPA Unmul yang Dipetakan dengan Perspektif Perempuan Bayangkan jika mahasiswa FMIPA Unmul bersama komunitas OpenStreetMap membuat pemetaan ruang aman di area kampus. Mahasiswa dapat menambahkan informasi seperti: 1. Lokasi lampu jalan yang berfungsi 2. Jalur pedestrian yang aman dilalui sore hari 3. Titik parkir yang ramai 4. Pos satpam kampus 5. Area yang minim penerangan 6. Area yang relatif aman untuk perempuan melintas sendirian 7. Tempat yang tetap aktif hingga malam 8. Jalur yang sering tergenang atau rusak Bahkan hal sederhana seperti keberadaan minimarket, musala, atau tempat duduk umum dapat membantu mahasiswa yang masih berada di kampus hingga petang. Bagi sebagian orang, data itu mungkin tampak biasa. Namun bagi mahasiswi yang masih harus berjalan menuju parkiran motor setelah praktikum selesai pukul 20.30 malam, informasi tersebut bisa memberikan rasa tenang. Karena rasa aman kadang datang dari hal sederhana. Misalnya tahu jalan mana yang lampunya masih terang atau area mana yang biasanya masih ramai dilewati orang. Dari Praktikum ke Peta Digital Mahasiswa FMIPA sebenarnya dekat dengan data. Setiap hari mereka belajar tentang pengamatan, pengukuran, analisis, dan ketelitian. Menariknya, semangat yang sama juga ada dalam OpenStreetMap. OSM bukan hanya soal teknologi, tetapi soal dokumentasi kondisi nyata. Mahasiswa Biologi bisa membantu memetakan ruang terbuka hijau. Mahasiswa Fisika dapat membantu pemetaan pencahayaan area kampus. Mahasiswa Kimia dan Laboratorium mungkin memahami area dengan aktivitas tinggi hingga sore. Mahasiswa Ilmu Komputer dapat membantu pengolahan data digital. Semua dapat berkontribusi. Dan ketika perempuan ikut menjadi bagian dari proses pemetaan, perspektif yang muncul menjadi lebih lengkap. Karena perempuan biasanya lebih peka terhadap detail-detail seperti itu. Mereka memperhatikan apakah suatu jalan cukup terang. Mereka sadar apakah sebuah area terasa aman ketika mulai sepi. Mereka mengingat tempat-tempat yang membuat mereka merasa nyaman ataupun tidak nyaman. Pengalaman seperti itu sangat berharga jika diterjemahkan menjadi data. Peta yang Tidak Sekadar Akurat Selama ini kita mungkin menganggap peta yang bagus cukup yang detail dan akurat. Padahal, peta yang baik juga harus manusiawi. Kampus bukan hanya kumpulan bangunan dan koordinat. Kampus adalah ruang hidup. Ada mahasiswa baru yang masih bingung mencari jalan pulang. Ada mahasiswi yang menunggu ojek online sendirian setelah praktikum. Ada mahasiswa yang berjalan cepat karena hujan turun dan jalan mulai sepi. Semua pengalaman itu sebenarnya bisa diterjemahkan menjadi informasi yang berguna. Melalui OpenStreetMap, mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna peta, tetapi juga pembuat peta. Dan mungkin, itulah hal paling penting. Karena ketika mahasiswa ikut memetakan lingkungan mereka sendiri, mereka sedang membantu menciptakan ruang yang lebih aman untuk semua. Penutup Setiap hari, ribuan mahasiswa datang dan pulang dari kampus. Sebagian berangkat saat matahari baru terbit. Sebagian pulang ketika langit mulai gelap. Di antara jadwal kuliah pukul 07.30 pagi hingga praktikum selesai pukul 16.30 sore, ada banyak pengalaman kecil yang jarang dicatat. Tentang jalan yang terang. Tentang jalan yang terasa aman untuk dilalui sendirian. Tentang rasa tenang ketika pulang. OpenStreetMap memberi kesempatan agar pengalaman itu tidak hanya disimpan sendiri. Ia bisa dipetakan. Karena terkadang, sebuah kota atau kampus tidak menjadi aman hanya karena memiliki banyak gedung. Tetapi karena ada orang-orang yang peduli untuk menandai titik-titik kecil yang membantu orang lain merasa lebih aman. Mungkin memang perubahan tidak langsung besar. Tapi setidaknya, ada langkah kecil yang bisa dimulai dari satu titik di peta.


Lomba Diary OSM Internasional Women Day

Gedung Wanita dalam Peta Kota

Beberapa minggu terakhir aku mulai sering memperhatikan fasilitas umum yang ada di Kota Samarinda. Biasanya aku hanya melihat bangunan-bangunan itu sebagai tempat biasa tanpa memikirkan fungsi dan manfaatnya bagi masyarakat. Namun sejak mengenal OpenStreetMap dan mulai tertarik dengan dunia pemetaan, aku jadi lebih peka terhadap keberadaan fasilitas publik,

Gedung Wanita dalam Peta Kota

Beberapa minggu terakhir aku mulai sering memperhatikan fasilitas umum yang ada di Kota Samarinda. Biasanya aku hanya melihat bangunan-bangunan itu sebagai tempat biasa tanpa memikirkan fungsi dan manfaatnya bagi masyarakat. Namun sejak mengenal OpenStreetMap dan mulai tertarik dengan dunia pemetaan, aku jadi lebih peka terhadap keberadaan fasilitas publik, terutama fasilitas yang berkaitan dengan perempuan. Salah satu tempat yang paling menarik perhatianku adalah Gedung Wanita. Awalnya aku hanya mengetahui Gedung Wanita sebagai bangunan yang digunakan untuk kegiatan pertemuan atau acara tertentu. Namun setelah mencari tahu lebih jauh, ternyata gedung tersebut memiliki fungsi yang cukup penting bagi perempuan. Gedung Wanita sering digunakan sebagai tempat pelatihan, seminar, kegiatan organisasi perempuan, pemberdayaan masyarakat, hingga ruang berkumpul untuk berbagai kegiatan sosial.

Ketika melewati gedung itu, aku mulai berpikir bahwa keberadaan fasilitas seperti ini sebenarnya sangat penting untuk dipetakan. Banyak orang mungkin mengetahui nama gedungnya, tetapi tidak semua mengetahui lokasi tepatnya, akses menuju tempat tersebut, maupun fungsi yang tersedia di dalamnya. Di sinilah aku mulai memahami bahwa peta digital seperti OpenStreetMap dapat membantu masyarakat mengenali fasilitas umum dengan lebih mudah. Sebagai perempuan, aku merasa Gedung Wanita memiliki makna yang lebih dari sekadar bangunan fisik. Tempat itu menjadi simbol bahwa perempuan juga memiliki ruang untuk berkembang, belajar, dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial. Dalam beberapa kegiatan, gedung tersebut bahkan menjadi tempat pelatihan keterampilan bagi perempuan agar lebih mandiri secara ekonomi.

masih banyak masyarakat yang belum mengetahui keberadaan fasilitas tersebut. Bahkan beberapa teman yang tinggal di Samarinda mengaku belum pernah mengetahui lokasi Gedung Wanita secara pasti. Hal sederhana seperti ini membuatku berpikir bahwa pemetaan fasilitas umum perempuan masih perlu ditingkatkan. Ketika membuka OpenStreetMap, aku mencoba mencari lokasi Gedung Wanita dan melihat informasi yang tersedia. Dari situ aku memahami bahwa peta bukan hanya membantu orang menemukan jalan, tetapi juga membantu memperlihatkan ruang-ruang penting yang mendukung kehidupan masyarakat.

Selain itu, pemetaan juga dapat membantu pemerintah melihat persebaran fasilitas publik yang ramah perempuan. Jika suatu wilayah belum memiliki ruang kegiatan perempuan, maka hal itu bisa menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan fasilitas ke depan.Aku merasa bahwa perempuan juga memiliki peran penting dalam proses pemetaan. Selama ini banyak orang menganggap pemetaan hanya berkaitan dengan teknologi dan pekerjaan lapangan yang rumit. Padahal perempuan juga dapat ikut berkontribusi dengan cara sederhana, seperti menambahkan informasi fasilitas umum, memperbarui data lokasi, atau mendokumentasikan kondisi lingkungan sekitar.Dengan adanya keterlibatan perempuan dalam pemetaan, data yang dihasilkan akan menjadi lebih lengkap dan lebih sensitif terhadap kebutuhan perempuan. Misalnya informasi tentang keamanan akses menuju gedung, penerangan jalan, fasilitas toilet perempuan, atau akses bagi ibu dan anak.

Melalui diary ini aku belajar bahwa pemetaan ternyata sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebuah titik di peta dapat membantu orang menemukan ruang belajar, ruang aman, dan ruang untuk berkembang. Hal kecil seperti menambahkan lokasi Gedung Wanita ke dalam peta digital ternyata dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat.Aku berharap ke depan semakin banyak perempuan yang tertarik mengenal OpenStreetMap dan ikut berkontribusi dalam pemetaan fasilitas umum. Tidak perlu langsung menjadi ahli teknologi. Kontribusi sederhana seperti memperbarui informasi lokasi atau menambahkan detail fasilitas sudah menjadi langkah penting dalam membangun peta yang lebih inklusif.

Pada akhirnya, aku memahami bahwa kota yang baik bukan hanya memiliki jalan yang luas dan bangunan yang megah, tetapi juga memiliki ruang yang mendukung perempuan untuk tumbuh dan berpartisipasi. Gedung Wanita menjadi salah satu contoh bagaimana fasilitas umum dapat menjadi simbol pemberdayaan perempuan.Dari pengalaman sederhana ini, aku belajar bahwa peta bukan hanya kumpulan garis dan titik, melainkan bentuk kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat. Ketika perempuan ikut memetakan ruang mereka sendiri, maka kota akan menjadi lebih ramah, lebih aman, dan lebih manusiawi bagi semua orang.


Jalur alternatif yang mudah ditemukan dengan OpenStreetMap

OpenStreetMap memudahkan Pengguna

Awal mula Aku mengenal pemetaan adalah saat Aku sedang berkuliah di Universitas Mulawarman, jurusan Aku adalah Ilmu Lingkungan yang membuat Aku harus mempelajari soal pemetaan. Software pemetaan pertama yang Aku pelajari adalah Arcgis. Saat Aku semester tiga, terdapat mata kuliah Sistem Manajemen Lingkungan yang mewajibkan Aku untuk mempelajari Arcgis. H

OpenStreetMap memudahkan Pengguna

Awal mula Aku mengenal pemetaan adalah saat Aku sedang berkuliah di Universitas Mulawarman, jurusan Aku adalah Ilmu Lingkungan yang membuat Aku harus mempelajari soal pemetaan. Software pemetaan pertama yang Aku pelajari adalah Arcgis. Saat Aku semester tiga, terdapat mata kuliah Sistem Manajemen Lingkungan yang mewajibkan Aku untuk mempelajari Arcgis. Hal - hal yang Aku pelajari saat menggunakan Arcgis adalah dasar - dasar menggunakan Arcgis, peta curah hujan, dan peta tutupan lahan.

Saat Aku memasuki semester empat, terdapat mata kuliah Pengurangan Resiko Bencana, pada mata kuliah inilah Dosen Aku memperkenalkan Aku pada OpenStreetMap. Menurut aku OpenStreetMap sangat mudah digunakan untuk pemula, saat aku mempelajari OpenStreetMap dikelas aku sangat mudah memahami tiap langkah - langkah yang diberikan, dari membuat Titik, Area, dan Garis.

Setelah memahami konsep dan fitur yang ada pada OpenStreetMap, Aku mulai menjelajahi isi bangunan, jalan, dan area yang ada pada OpenStreetMap. Hal pertama yang Aku cari adalah jalan tembusan yang bisa digunakan untuk menuju tempat tujuan lebih cepat saat aku terlambat. Seperti Jalan Sambutan yang dapat digunakan sebagai jalur alternatif saat mau menuju ke Jembatan Mahkota biar lebih cepat.

Aku juga menemukan beberapa jalan buntu di OpenStreetMap agar tidak tersesat lagi saat menyusuri sebuah jalan. Di OpenStreetMap aku juga menemukan beberapa toilet umum yang bisa digunakan dengan gratis, salah satunya ada di beberapa Mushola yang bisa kita temukan di seluruh Wilayah Samarinda.

Menurut aku OpenStreetMap ini sangat memudahkan kita sebagai sesama mahluk sosial karena dengan adanya OpenStreetMap ini kita dapat membantu satu sama lain dengan memberikan nama jalan, nama gedung, dan nama area tertentu agar semua orang dapat mengetahuinya.

Sebagai seorang perempuan, aku ngerasa kalau OpenStreetMap ini bener - bener berguna banget karena aku bisa nemuin Toilet khusus wanita, dan tempat parkir khusus wanita. Seperti di Bigmall Samarinda aku menemukan tempat parkir mobil khusus wanita, hal - hal ini seperti ini benar - benar memudahkan saya sebagai perempuan.


Mencari Toilet Umum di Samarinda dengan Bantuan OpenStreetMap

OpenStreetMap memudahkan perempuan mencari toilet umum

Fasilitas umum merupakan bagian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Salah satu fasilitas yang sering dianggap sederhana tetapi sangat dibutuhkan adalah toilet umum. Bagi perempuan, keberadaan toilet umum yang bersih, aman, dan mudah ditemukan tentu sangat membantu saat sedang berada di luar rumah. Melalui OpenStreetMap, masyaraka

OpenStreetMap memudahkan perempuan mencari toilet umum

Fasilitas umum merupakan bagian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Salah satu fasilitas yang sering dianggap sederhana tetapi sangat dibutuhkan adalah toilet umum. Bagi perempuan, keberadaan toilet umum yang bersih, aman, dan mudah ditemukan tentu sangat membantu saat sedang berada di luar rumah. Melalui OpenStreetMap, masyarakat dapat ikut berkontribusi menambahkan informasi fasilitas umum agar lebih mudah diakses oleh semua orang.

Toilet Umum dan Kebutuhan Perempuan

Kadang hal paling sederhana justru jadi hal yang paling penting saat kita sedang di luar rumah. Salah satunya adalah toilet umum. Mungkin terdengar sepele, tapi ketika sedang berada di perjalanan, di taman kota, atau di tempat ramai, toilet umum benar-benar dibutuhkan, apalagi bagi perempuan. Aku sendiri pernah berpikir kalau mencari toilet umum itu gampang. Tinggal masuk mall atau tempat makan. Tapi ternyata tidak selalu seperti itu. Ada saat ketika sedang berada di tempat yang belum familiar di Samarinda dan bingung mencari toilet umum terdekat. Kadang harus bertanya ke orang sekitar, kadang juga harus mutar cukup jauh hanya untuk menemukan toilet yang bisa dipakai.

Pentingnya Toilet Umum di Samarinda

Menurutku, toilet umum itu termasuk fasilitas penting yang sering kurang diperhatikan. Padahal keberadaannya sangat membantu banyak orang, terutama perempuan, anak kecil, dan orang yang sedang bepergian jauh. Selain mudah ditemukan, toilet umum juga sebaiknya bersih, aman, dan nyaman digunakan. Di Samarinda sendiri sebenarnya sudah ada cukup banyak toilet umum. Biasanya bisa ditemukan di pusat perbelanjaan, taman kota, rumah sakit, tempat ibadah, terminal, dan tempat wisata. Sayangnya, informasi tentang lokasi toilet umum itu belum semuanya tersedia di peta digital. Akibatnya, masih banyak orang yang kesulitan mencari toilet umum saat benar-benar membutuhkannya.

Mengenal OpenStreetMap

Karena itulah aku mulai tertarik dengan OpenStreetMap atau OSM. OpenStreetMap adalah peta digital terbuka yang bisa diedit oleh siapa saja. Jadi masyarakat bisa ikut menambahkan informasi penting ke dalam peta, termasuk lokasi toilet umum. Menurutku ini keren, karena kita bisa membantu orang lain lewat hal sederhana. Menurutku, pemetaan toilet umum juga bisa membantu perempuan merasa lebih aman dan nyaman saat berada di luar rumah. Misalnya ketika sedang jalan-jalan di Teras Samarinda atau berada di pusat kota, informasi toilet umum yang jelas tentu sangat membantu. Apalagi jika lokasinya sudah tersedia di peta digital, orang tidak perlu lagi bingung atau bertanya ke banyak orang.

Peran Anak Muda dalam Pemetaan Digital

Selain itu, keberadaan toilet umum yang bersih dan mudah ditemukan juga bisa membuat kota terlihat lebih ramah bagi masyarakat. Hal kecil seperti ini sebenarnya punya dampak besar dalam kehidupan sehari-hari. Dari sini aku sadar kalau fasilitas umum bukan hanya pelengkap kota, tetapi memang kebutuhan penting yang harus diperhatikan bersama. Aku juga merasa bahwa anak muda sekarang sebenarnya bisa ikut membantu membuat kota menjadi lebih nyaman. Tidak harus melakukan hal besar. Hal sederhana seperti menambahkan lokasi toilet umum ke OpenStreetMap saja sudah bisa membantu banyak orang. Dari sini aku sadar kalau teknologi bukan cuma dipakai untuk media sosial atau hiburan, tapi juga bisa dipakai untuk membantu lingkungan sekitar.

Harapan untuk Samarinda

Selain membantu masyarakat, pemetaan fasilitas umum juga bisa membuat Samarinda terlihat lebih siap sebagai kota modern. Kota yang nyaman bukan hanya tentang gedung tinggi atau jalan besar, tapi juga tentang fasilitas umum yang mudah diakses semua orang. Menurutku, masih banyak fasilitas umum di Samarinda yang bisa ditambahkan ke OpenStreetMap. Tidak hanya toilet umum, tetapi juga tempat ibadah, taman kota, halte, dan fasilitas penting lainnya. Semakin lengkap informasi di peta, semakin mudah juga masyarakat mendapatkan bantuan saat sedang membutuhkan sesuatu.

Melalui tulisan ini, aku jadi sadar kalau hal kecil seperti toilet umum ternyata punya peran penting dalam kehidupan sehari-hari. OpenStreetMap membantu masyarakat menemukan fasilitas tersebut dengan lebih mudah. Aku berharap semakin banyak orang yang ikut peduli dan berkontribusi dalam pemetaan digital supaya Samarinda bisa menjadi kota yang lebih nyaman, aman, dan ramah bagi semua orang, terutama perempuan.


Pemetaan keamanan ruang publik perempuan di Tepian Mahakam menggunakan OpenStreetMap

Menelusuri Tepian Mahakam: Pemetaan Ruang Publik Aman untuk Perempuan di Samarinda

## Awal Ketertarikan terhadap Tepian Mahakam Tepian Mahakam merupakan salah satu ruang publik yang cukup terkenal di Kota Samarinda. Kawasan ini sering menjadi tempat berkumpul masyarakat, terutama pada sore hingga malam hari. Banyak pengunjung datang untuk menikmati suasana Sungai Mahakam, berjalan santai di area

Menelusuri Tepian Mahakam: Pemetaan Ruang Publik Aman untuk Perempuan di Samarinda

## Awal Ketertarikan terhadap Tepian Mahakam Tepian Mahakam merupakan salah satu ruang publik yang cukup terkenal di Kota Samarinda. Kawasan ini sering menjadi tempat berkumpul masyarakat, terutama pada sore hingga malam hari. Banyak pengunjung datang untuk menikmati suasana Sungai Mahakam, berjalan santai di area pedestrian, maupun sekadar duduk bersama keluarga dan teman. Sebagai perempuan yang cukup sering mengunjungi kawasan ini, saya mulai memperhatikan bagaimana kondisi ruang publik di Tepian Mahakam. Apakah tempat ini benar-benar aman dan nyaman untuk perempuan? Pertanyaan tersebut muncul ketika saya melihat beberapa sudut kawasan yang masih minim penerangan serta fasilitas umum yang belum sepenuhnya lengkap. Dari rasa penasaran tersebut, saya mencoba melihat Tepian Mahakam dari sudut pandang berbeda melalui OpenStreetMap (OSM). Saya ingin memahami bagaimana pemetaan digital dapat membantu menciptakan ruang publik yang lebih aman dan responsif terhadap kebutuhan perempuan.

Mengamati Keamanan Ruang Publik untuk Perempuan

Saat melakukan observasi di Tepian Mahakam, saya melihat kawasan ini memiliki suasana yang cukup ramai, terutama pada akhir pekan. Banyak keluarga membawa anak-anak untuk berjalan santai di area tepian sungai. Kehadiran pedagang UMKM juga membuat kawasan ini terasa hidup. Namun, di balik suasana tersebut, masih terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pada malam hari, beberapa bagian pedestrian terlihat kurang terang. Selain itu, terdapat beberapa titik yang cukup sepi sehingga dapat menimbulkan rasa kurang nyaman bagi perempuan yang berjalan sendirian. Saya juga memperhatikan bahwa fasilitas pendukung seperti toilet umum dan area istirahat belum semuanya mudah ditemukan. Informasi mengenai fasilitas tersebut juga belum sepenuhnya tersedia di peta digital. Padahal, informasi seperti lokasi toilet, jalur pedestrian, pencahayaan, dan tempat duduk cukup penting bagi pengguna ruang publik, terutama perempuan. Melalui pengamatan sederhana ini, saya menyadari bahwa keamanan ruang publik tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pengunjung, tetapi juga oleh fasilitas dan lingkungan yang mendukung rasa aman.

Fasilitas Umum dan Kenyamanan Pengunjung

Selain aspek keamanan, kenyamanan ruang publik juga menjadi hal penting. Di Tepian Mahakam terdapat beberapa fasilitas umum yang cukup membantu pengunjung, seperti:

  • Area duduk umum
  • Jalur pejalan kaki
  • Tempat sampah
  • Area parkir
  • Toilet umum
  • Lapak UMKM

Keberadaan fasilitas tersebut membuat kawasan Tepian Mahakam menjadi tempat yang ramah bagi masyarakat. Namun, menurut saya masih terdapat beberapa fasilitas yang dapat ditingkatkan, misalnya penambahan pencahayaan di beberapa titik pedestrian serta informasi lokasi fasilitas umum yang lebih jelas. Bagi perempuan, kenyamanan ruang publik sangat memengaruhi aktivitas sehari-hari. Ruang publik yang aman dan nyaman dapat membuat perempuan lebih bebas untuk beraktivitas, berolahraga, maupun menikmati suasana kota tanpa rasa khawatir berlebihan. Karena itu, keberadaan data spasial yang lengkap menjadi penting agar kondisi fasilitas umum dapat diketahui oleh masyarakat maupun pihak terkait.

Kontribusi Mapping Menggunakan OpenStreetMap

OpenStreetMap menjadi media yang menarik karena memungkinkan masyarakat ikut berkontribusi dalam pemetaan digital secara terbuka. Melalui OSM, siapa saja dapat menambahkan informasi berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Saat melakukan mapping di Tepian Mahakam, saya mencoba menambahkan beberapa objek penting, seperti:

  1. Jalur pedestrian
  2. Tempat duduk
  3. Area parkir
  4. Lampu jalan
  5. Toilet umum
  6. Lokasi UMKM
  7. Area terbuka publik

Kegiatan mapping ini membuat saya memahami bahwa peta bukan hanya tentang jalan dan bangunan, tetapi juga tentang kebutuhan manusia yang menggunakan ruang tersebut setiap hari. Dengan data yang lebih lengkap, pengguna peta dapat mengetahui fasilitas yang tersedia sebelum datang ke lokasi. Selain itu, data OpenStreetMap juga dapat membantu komunitas maupun pemerintah dalam melihat area yang masih membutuhkan perhatian lebih.

Pengalaman Selama Survey Lapangan

Melakukan survey langsung di lapangan memberikan pengalaman yang cukup menarik bagi saya. Saya mulai memperhatikan detail-detail kecil yang sebelumnya jarang saya sadari, seperti kondisi trotoar, pencahayaan, hingga akses fasilitas umum. Kegiatan mapping juga membuat saya lebih memahami kondisi ruang publik dari perspektif perempuan. Terkadang sebuah tempat terlihat ramai dan nyaman, tetapi masih memiliki beberapa titik yang kurang aman ketika malam hari. Selain itu, saya merasa bahwa perempuan sebenarnya memiliki perspektif yang penting dalam proses pemetaan. Pengalaman perempuan dalam menggunakan ruang publik dapat membantu menghasilkan data yang lebih inklusif dan sesuai kebutuhan masyarakat. Melalui kegiatan sederhana ini, saya menyadari bahwa kontribusi kecil dalam OpenStreetMap ternyata dapat memberikan manfaat yang cukup besar.

Pentingnya Pemetaan Responsif Gender

Menurut saya, pemetaan responsif gender merupakan hal yang penting karena setiap orang memiliki pengalaman berbeda dalam menggunakan ruang publik. Perempuan sering kali lebih memperhatikan aspek keamanan, pencahayaan, akses fasilitas umum, hingga kondisi lingkungan sekitar. Karena itu, data spasial sebaiknya tidak hanya fokus pada objek fisik, tetapi juga mempertimbangkan kenyamanan dan keamanan penggunanya. OpenStreetMap menjadi salah satu media yang mendukung keterlibatan masyarakat dalam membangun data spasial yang lebih inklusif. Dengan kontribusi dari berbagai kalangan, termasuk perempuan, kualitas data peta dapat menjadi lebih lengkap dan relevan. Pemetaan seperti ini juga dapat membantu meningkatkan kesadaran bahwa ruang publik seharusnya dapat diakses dengan aman oleh semua orang.

Harapan untuk Ruang Publik di Samarinda

Saya berharap ruang publik di Samarinda, khususnya Tepian Mahakam, dapat terus berkembang menjadi tempat yang aman, nyaman, dan inklusif bagi seluruh masyarakat. Perbaikan fasilitas umum, penambahan pencahayaan, serta data spasial yang lebih lengkap dapat membantu meningkatkan kualitas ruang publik di kota ini. Selain itu, saya juga berharap semakin banyak perempuan yang tertarik mempelajari pemetaan digital dan ikut berkontribusi dalam OpenStreetMap. Kehadiran perempuan dalam dunia pemetaan dapat memberikan sudut pandang baru yang lebih beragam dan bermanfaat.

Penutup

Kegiatan sederhana seperti melakukan mapping di Tepian Mahakam ternyata memberikan pengalaman dan sudut pandang baru bagi saya. Saya belajar bahwa peta bukan hanya alat navigasi, tetapi juga dapat menjadi media untuk memahami kondisi sosial dan ruang publik di sekitar kita. Melalui OpenStreetMap, masyarakat dapat ikut berkontribusi membangun data spasial yang lebih lengkap, terbuka, dan inklusif. Saya percaya bahwa kontribusi kecil dari banyak orang dapat membantu menciptakan ruang publik yang lebih aman dan nyaman, terutama bagi perempuan.


Ibu yang memiliki bayi

Pemetaan keamanan ruang publik untuk perempuan

Ruang menyusui jadi salah satu fasilitas penting di ruang publik karena bisa membuat ibu merasa lebih nyaman saat membawa bayi. Dengan adanya ruang khusus ini, ibu bisa menyusui dengan lebih tenang dan merasa lebih aman ketika berada di tempat umum.

Fasilitas ruang khusus menyusui

Jadi saya berpikir kalo pemetaan fasilitas ramah perempuan di

Pemetaan keamanan ruang publik untuk perempuan

Ruang menyusui jadi salah satu fasilitas penting di ruang publik karena bisa membuat ibu merasa lebih nyaman saat membawa bayi. Dengan adanya ruang khusus ini, ibu bisa menyusui dengan lebih tenang dan merasa lebih aman ketika berada di tempat umum.

Fasilitas ruang khusus menyusui

Jadi saya berpikir kalo pemetaan fasilitas ramah perempuan didalam mall juga penting dilakukan biar memudahkan ibu yang membawa bayi untuk bisa menyusui dengan nyaman, privasi, dan keberadaan ruang khusus menyusui ada di lantai Ground Floor (Lantai Dasar).

Gambar


Pemberdayaan Perempuan Dalam Organisasi Kemasyarakatan

International Women’s Day 2026

Halo teman-teman OSM

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional. Yang pastinya dirayakan oleh seluruh dunia, maka dari itu saya mencari fasilitas atau tempat di mana perempuan dapat mengekspresikan dirinya tanpa merasa takut, terganggu, bahkan merasa dirinya tidak aman di ruang publik. Khususnya di kota yang dijuluki kota tepian, yaitu kota Sama

International Women’s Day 2026

Halo teman-teman OSM

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional. Yang pastinya dirayakan oleh seluruh dunia, maka dari itu saya mencari fasilitas atau tempat di mana perempuan dapat mengekspresikan dirinya tanpa merasa takut, terganggu, bahkan merasa dirinya tidak aman di ruang publik. Khususnya di kota yang dijuluki kota tepian, yaitu kota Samarinda di Kalimantan timur.

Salah satu fasilitas yang saya temukan dan familiar didengar oleh saya adalah Gedung PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga). Gedung ini berisikan kaum perempuan, di sinilah keputusan-keputusan penting mengenai isu kesehatan anak, pelatihan ekonomi ibu rumah tangga, dan koordinasi kader posyandu dirumuskan. Selain itu, gedung ini juga menjadi wadah bagi perempuan yang ingin menambah penghasilan keluarga lewat pelatihan UMKM.

Gedung PKK adalah tempat pertama yang terlintas di pikiran saya sebagai fasilitas yang aman bagi perempuan. Karena, ibu saya sendiri aktif di organisasi masyarakat ini dan sering terlibat dalam pemberdayaan masyarakat. Beberapa kegiatan yang diadakan meliputi pelatihan UMKM (seperti festival tani lokal, bazar kerajinan dan bazar kuliner), gerakan Tanaman Obat Keluarga (TOGA), posyandu, serta edukasi mengenai pengelolaan sampah rumah tangga.


Lomba Diary OSM

Memetakan Mushola Perempuan

Pada waktu libur kuliah saya dan teman teman saya pergi ketempat wisata yang sudah kami rencanakan sejak lama yaitu ke tempat wisata di daerah pegunungan, saya dan teman teman menikmati perjalanan dan pemandangan yang sangat indah dan menikmati udara yang sejuk dan dingin. Setelah itu kami sampai di tempat wisata tersebut, saya dan teman teman saya mengelilingi tempa

Memetakan Mushola Perempuan

Pada waktu libur kuliah saya dan teman teman saya pergi ketempat wisata yang sudah kami rencanakan sejak lama yaitu ke tempat wisata di daerah pegunungan, saya dan teman teman menikmati perjalanan dan pemandangan yang sangat indah dan menikmati udara yang sejuk dan dingin. Setelah itu kami sampai di tempat wisata tersebut, saya dan teman teman saya mengelilingi tempat wisata dan melihat banyak pengunjung. Kami duduk dan menikmati pemandangan dan udara yang sejuk. Lalu kami mencari tempat makan untuk kami makan sembari menunggu waktu sholat tiba. Setelah itu kami selesai makan dan waktu sholat telah tiba kami ingin sholat, tetapi saat waktu sholat tiba kami kebingungan mencari mushola perempuan yang ada di tempat wisata tersebut. Kami keliling di sekitar tempat wisata tersebut tetapi kami tidak menemukan karena tidak ada petunjuk yang jelas dan di peta digital tidak ada dimana mushola perempuan berada, yang biasanya tempat wisata lain ada jelas penunjukan tempat mushola perempuan itu berada. Lalu saya dan teman-teman saya bertanya kesalah satu pengunjung ternyata pengunjung tersebut menjawab tidak mengetahui dimana letak mushola perempuan tersebut. Setelah itu kami ingin pergi pulang dan ingin sholat di mushola perempuan yang berada di daerah tempat wisata tersebut. Saya dan teman-teman saya langsung pergi ke tempat parkir motor kami dan saat sampai di parkiran saya mencoba bertanya ke penjaga parkiran di wisata tersebut. Saya bertanya apakah ada tempat mushola perempuan di wisata ini. Setalah itu penjaga parkiran menjawab ada dan menunjukkan tempat dimana mushola perempuan itu berada. Ternyata mushola perempuan tersebut yang ada di wisata itu berada di dekat dengan tempat area parkiran. Lalu kami langsung pergi ke mushola perempuan tersebut dan kami langsung sholat. Dari pengalaman saya dan teman teman saya menyadari bahwa informasi petunjuk tentang tempat mushola perempuan itu sangat penting agar yang berkunjung di wisata tidak kebingungan, terutama perempuan yang ingin beribadah di tempat wisata tersebut. Setelah pengalam tersebut, pada saat kuliah saya belajar dan mengenal tentang OpenStreetMap dan saya mulai menambahkan lokasi yang tidak ada di peta digital dengan OpenStreetMap.


Lomba Diary OSM Interenational Women's Day 2026

Pemetaan Fasilitas Umum Responsif Gender.

Pemetaan fasilitas umum yang memperhatikan kebutuhan perempuan. Seperti keberadaan ruang yang layak pakai bagi perempuan.

Fasilitas Ramah Perempuan di Teras Samarinda Kalimatantan Timur

Teras Samarinda juga merupakan salah satu kawasan publik yang sering dikunjungi oleh penulis. Meskipun hanya sekedar melepas penat dan bersantai dengan teman deka

Pemetaan Fasilitas Umum Responsif Gender.

Pemetaan fasilitas umum yang memperhatikan kebutuhan perempuan. Seperti keberadaan ruang yang layak pakai bagi perempuan.

Fasilitas Ramah Perempuan di Teras Samarinda Kalimatantan Timur

Teras Samarinda juga merupakan salah satu kawasan publik yang sering dikunjungi oleh penulis. Meskipun hanya sekedar melepas penat dan bersantai dengan teman dekatnya sambil menikmati pemandangan indah di sungai Mahakam.

Teras Samarinda merupakan salah satu kawasan ruang publik atau fasilitas umum dan menjadi ikon yang berada di kawasan tepian Sungai Mahakam Kota Samarinda. Kawasan Teras Samarinda ini menyediakan jalur pejalan kaki, panggung untuk menampilkan pentas seni, tempat duduk, area bersantai, serta ruang terbuka yang sering dimanfaatkan pengunjung untuk melakukan kegiatan olahraga ataupun hanya sekedar bersantai, berkumpul sambil menikmati pemandangan Sungai Mahakam.

Fasilitas yang tersedia di teras samarinda cukup ramah bagi perempuan. Adanya jalur pedestrian yang cukup luas sehingga memudahkan perempuan terutama bagi ibu hamil, ibu yang memiliki anak atau pengguna stroller untuk berjalan dengan lebih nyaman. Teras Samarinda juga dilengkapi dengan fasilitas penerangan jalan dan area publik yang cukup baik pada malam hari dibeberapa titik sehingga pada malam hari cukup terang untuk meningkatkan rasa aman bagi pengunjung yang datang berkunjung pada saat malam hari. Tempat duduk dan ruang terbuka cukup banyak sehingga dapat digunakan keluarga ataupun teman untuk berkumpul sambil menikmati indahnya sunset yang berada di sisi sungai Mahakam.

Teras Samarinda juga menyediakan toilet umum khusus perempuan bagi yang ingin menggunakannya. Ruang publik yang cukup ramai oleh masyarakat setiap waktu dapat menyiptakan pengawasan sosial alami sehingga secara tidak langsung dapat membantu meningkatkan keamanan pengguna ruang khususnya bagi perempuan. Area rekreasi keliuarga juga cukup memadai di teras samarinda yang relative ramah untuk aktivitas anak dan keluarga di kawasan pusat kota.

Namun, meskipun fasilitas yang diberikan cukup ramah bagi perempuan, fasilitas teras samarinda perlu ditambah khususnya ruang laktasi bagi ibu yang sedang memiliki bayi sehingga ibu menyusui memiliki ruang aman dan nyaman untuk menyusui bayi mereka. Perlu adanya sekat atau pemisah antara tempat bagi laki-laki dan perempuan di ruang musholla agar meningkatkan rasa aman bagi perempuan yang sedang melaksanakan ibadah di musholla.


Pentingnya Peran Perempuan di dalam Openstreetmap

Perempuan di dalam dunia geospasial sudah bukan lagi menjadi hal yang tabu. ada banyak pemeta perempuan lulusan universitas yang sudah bekerja di perusahaan-perusahaan pertambangan atau perusahaan kelapa sawit.

Namun, pada platform openstreetmap pemeta perempuan menurut perkumpulan openstreetmap jumlah nya masih jauh dibanding pemeta laki-laki. Padahal, peran perempuan dalam platform pet

Perempuan di dalam dunia geospasial sudah bukan lagi menjadi hal yang tabu. ada banyak pemeta perempuan lulusan universitas yang sudah bekerja di perusahaan-perusahaan pertambangan atau perusahaan kelapa sawit.

Namun, pada platform openstreetmap pemeta perempuan menurut perkumpulan openstreetmap jumlah nya masih jauh dibanding pemeta laki-laki. Padahal, peran perempuan dalam platform peta terbuka ini sangatlah penting. Mereka bisa mempertajam kelengkapan informasi attribut peta yang berhubungan dengan ruang lingkup gender perempuan.

Platform openstreetmap sendiri masih minim sekali dengan informasi spasial yang berkaitan dengan fasilitas-fasilitas perempuan seperti toilet ramah perempuan, ruang laktasi, halte bus aman perempuan dan lain sebagainya. Perempuan juga bisa membantu akurasi data menjadi lebih detail.

Hasil karya kita di platform osm ini juga akan terlihat oleh pemeta lainnya dari seluruh dunia. Hal inilah memungkinkan kesempatan kita mendapat jejaring yang sangat luas karena bisa memungkikan kita bertemu denngan pemeta perempuan lainnya dari lintas benua.

Menjadi pemeta perempuan di openstreetmap sangatlah tidak menyulitkan karena dasar-dasar editing peta di osm sangatlah mudah dan bisa dipelajari dengan waktu yang cukup singkat. Menjadi pemeta di osm juga bisa membuka peluan berjejaring dan bahkan peluang kerjasama. Karya kita pun akan dimanfaatkan dan akan bermanfaat bagi perempuan-perempuan lainnya yang menggunakan data tersebut. Bukan hal umum jika osm sudah digunakan oleh perusahaan-perusahaan teknologi besar dan pemerintahan dari berbagai negara.

Oleh karena itu, tidak akan rugi jika kita mau mencoba menjadi pemeta di openstreetmap, khususnya untuk para perempuan dengan latar belakang pemeta atau latar belakang lainnya. Menjadi pemeta di osm sangatlah menyenangkan dan juga cukup mudah.

Friday, 22. May 2026

OpenStreetMap User's Diaries

Easy way to find Speed Limit data for Motorways (Highways), Trunk roads, and Primary roads in United States of America

I live in Washington State and noticed that several main roads like state highways did not have a speed limit set. When I use OsmAnd or Organic Maps to navigate, those apps are guessing what the speed limits are for several roads, creating very bad guesses of how long a trip will take. Fuel-efficient routes also are not optimized unless max speeds for roads are known.

I discovered severa

I live in Washington State and noticed that several main roads like state highways did not have a speed limit set. When I use OsmAnd or Organic Maps to navigate, those apps are guessing what the speed limits are for several roads, creating very bad guesses of how long a trip will take. Fuel-efficient routes also are not optimized unless max speeds for roads are known.

I discovered several awesome websites that make finding existing speed limits a breeze. I don’t like relying on Mapillary, even though they do an amazing job in making it easier to map speed limits. I just don’t want to support their owner Meta (Facebook).

Specifically for my state, I found this website: Washington https://geo.wa.gov/datasets/WSDOT::wsdot-roadway-data-speed-limits/explore?location=47.916813%2C-118.330518%2C15

Move your mouse over any state highway, click on it, and it shows you the speed limit for that road segment.

With this website, it makes finding the speed zones significantly easier. I don’t have to use Bing Streetside or Mapillary anymore because I rely on government data instead.

I also found other state websites and will list them now so they are all grouped together.

Virginia https://www.virginiaroads.org/maps/VDOT::vdot-speed-limits-map/explore?location=37.356725%2C-78.949534%2C12&path=

North Carolina https://www.arcgis.com/apps/mapviewer/index.html?layers=2229ffaa3ea5470992d021023618e1e6

Texas https://gis-txdot.opendata.arcgis.com/datasets/txdot-speed-limits/explore?location=33.705213%2C-100.174890%2C9

Florida https://gis-fdot.opendata.arcgis.com/datasets/fdot::maximum-speed-limit-tda/explore?location=27.792987%2C-83.778658%2C7

New York https://gis.dot.ny.gov/html5viewer/?viewer=risviewer

If we get more people to check major roads and update their speed limits, routing engines like OsmAnd, Organic Maps, GraphHopper, OSRM, and Valhalla will be able to create routes that are much faster, safer, and more fuel efficient.


Keindahan yang Lahir dari Luka Alam

Keindahan yang Lahir dari Luka Alam

Sebuah perjalanan menyusuri Danau Biru Panca Jaya, tempat bekas tambang batu bara berubah menjadi danau hijau toska yang indah, sekaligus menyimpan cerita tentang perubahan bentang alam dan jejak aktivitas manusia terhadap lingkungan.

Ketika Lubang Tambang Berubah Menjadi Destinasi Wisata yang Memikat

*Awalnya saya mengetahui Danau Biru Panca Jaya dar

Keindahan yang Lahir dari Luka Alam

Sebuah perjalanan menyusuri Danau Biru Panca Jaya, tempat bekas tambang batu bara berubah menjadi danau hijau toska yang indah, sekaligus menyimpan cerita tentang perubahan bentang alam dan jejak aktivitas manusia terhadap lingkungan.

Ketika Lubang Tambang Berubah Menjadi Destinasi Wisata yang Memikat

*Awalnya saya mengetahui Danau Biru Panca Jaya dari media sosial. Warna airnya yang hijau toska terlihat sangat indah dan berbeda dari danau pada umumnya. Rasa penasaran membuat saya dan teman saya memutuskan untuk mengunjungi tempat tersebut saat akhir pekan.

*Perjalanan menuju lokasi terasa menyenangkan karena kami dapat melihat secara langsung bagaimana sebuah bekas tambang dapat berubah menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi. Sesampainya di Danau Biru, saya benar-benar terkejut karena pemandangannya ternyata seindah yang ada di media sosial, bahkan terasa lebih menenangkan saat dilihat secara langsung.

  1. Di sekitar danau terdapat pepohonan yang membuat suasana menjadi sejuk dan berangin. Udara yang segar serta pemandangan air yang jernih membuat banyak pengunjung betah berlama-lama di sana. Di area wisata juga terdapat penjual makanan dan minuman, penyewaan ban untuk bermain di air, hingga jasa foto bagi pengunjung yang ingin mengabadikan momen. Suasana yang ramai membuat tempat ini terasa hidup dan menjadi salah satu destinasi menarik di Kutai Kartanegara.

  2. Namun, di balik keindahannya, saya kemudian mengetahui bahwa Danau Biru terbentuk dari bekas lubang tambang batu bara yang terisi air hujan selama bertahun-tahun. Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa sebuah tempat dapat menyimpan dua cerita sekaligus: keindahan yang memikat dan jejak perubahan lingkungan akibat aktivitas manusia.

Dokumentasi Danau Biru Panca Jaya

Image


Menandai Ruang Pemberdayaan: Pemetaan Koordinat Gedung PKK Samarinda di OpenStreetMap

International Women’s Day 2026

Halo teman-teman OSM

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional. Yang pastinya dirayakan oleh seluruh dunia, maka dari itu saya mencari fasilitas atau tempat di mana perempuan dapat mengekspresikan dirinya tanpa merasa takut, terganggu, bahkan merasa dirinya tidak aman di ruang publik. Khususnya di kota yang dijuluki kota tepian, yaitu kota Sama

International Women’s Day 2026

Halo teman-teman OSM

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional. Yang pastinya dirayakan oleh seluruh dunia, maka dari itu saya mencari fasilitas atau tempat di mana perempuan dapat mengekspresikan dirinya tanpa merasa takut, terganggu, bahkan merasa dirinya tidak aman di ruang publik. Khususnya di kota yang dijuluki kota tepian, yaitu kota Samarinda di Kalimantan timur.

Salah satu fasilitas yang saya temukan dan familiar didengar oleh saya adalah Gedung PKK (Pemberdayaan Kesejahteran Keluarga). Gedung ini berisikan kaum perempuan, di sinilah keputusan-keputusan penting mengenai isu kesehatan anak, pelatihan ekonomi ibu rumah tangga, dan koordinasi kader posyandu dirumuskan. Selain itu, gedung ini juga menjadi wadah bagi perempuan yang ingin menambah penghasilan keluarga lewat pelatihan UMKM.

Gedung PKK adalah tempat pertama yang terlintas di pikiran saya sebagai fasilitas yang aman bagi perempuan. Karena, ibu saya sendiri aktif di organisasi masyarakat ini dan sering terlibat dalam pemberdayaan masyarakat. Beberapa kegiatan yang diadakan meliputi pelatihan UMKM (seperti festival tani lokal, bazar kerajinan dan bazar kuliner), gerakan Tanaman Obat Keluarga (TOGA), posyandu, serta edukasi mengenai pengelolaan sampah rumah tangga.


Menelusuri Gender Gap dalam Toponimi Nama-Nama Jalan di Jabodetabek

Apabila kita memperhatikan jalan yang kita lewati setiap hari, pasti ada terlintas pertanyaan dalam benak kita, “siapa tokoh yang diabadikan di jalan ini? apa alasannya? Toponomi jalan bukanlah sekadar penanda lokasi, tetapi mengandung sesuatu yang lebih dalam, yakni tentang bagaimana suatu kota memutuskan siapa yang berhak untuk terus diabadikan.

Pada tulisan ini, saya akan mencoba meng

Apabila kita memperhatikan jalan yang kita lewati setiap hari, pasti ada terlintas pertanyaan dalam benak kita, “siapa tokoh yang diabadikan di jalan ini? apa alasannya? Toponomi jalan bukanlah sekadar penanda lokasi, tetapi mengandung sesuatu yang lebih dalam, yakni tentang bagaimana suatu kota memutuskan siapa yang berhak untuk terus diabadikan.

Pada tulisan ini, saya akan mencoba mengulik data nama-nama jalan di kawasan Jabodetabek dan menganalisnya untuk mengetahui mana jalan yang dinamai tokoh perempuan dan tokoh laki-laki.

Filosofis Nama Jalan

Nama jalan merupakan topik penting untuk dibicarakan. Menurut kajian onomastik dan geografi budaya, nama-nama jalan adalah penanda arah menuju sejarah dan sistem nilai suatu masyarakat atau “signpost to history” sehingga nama jalan bukan hanya sekadar alat navigasi. Jalan adalah identitas politik di berbagai konteks geokultural dan sejarah. Secara harafiah, nama jalan adalah simbolis penanaman nilai dominan suatau masyarakat, beserta ingatan sejarahnya, ke dalam lanskap (Rusu, 2022).

Mihai S. Rusu, sosiolog dari Lucian Blaga University of Sibiu, menyebutnya sebagai “topo-hegemonic masculinity” dimana kondisi dominasi laki-laki bukan hanya hidup dalam relasi sosial sehari-hari, tapi juga terukir secara harfiah ke dalam lanskap kota melalui pemberian nama jalan (Rusu, 2022). Penelitiannya di kota Sibiu, Romania, menemukan bahwa sepanjang kurun 1875 hingga 2020, hanya 4,70% dari nama-nama jalan eponimikal (yang merujuk pada seseorang) yang mengabadikan perempuan. Jabodetabek? Keadaannya tidak begitu berbeda.

Apa yang Ditemukan di Jabodetabek

Melalui 1.212 nama-nama jalan yang dianlisis telah ditemukan 242 nama-nama jalan eponimikal dengan proporsi sebagai berikut:

  1. Tokoh Laki-Laki: 224 nama jalan

  2. Tokoh Perempuan: 18 nama jalan

peta-diva
Peta Distribusi Toponimi Jalan Berdasarkan Nama Tokoh di Jabodetabek

Nama-nama jalan yang termasuk kategori tokoh perempuan antara lain: Jalan R.A. Kartini, Jalan Hajjah R. Rasuna Said, Jalan Cut Nyak Dien, Jalan Cut Mutia, Jalan Dewi Sartika, Jalan Laksamana Malahayati, hingga Terowongan Kartini. Beberapa nama muncul dalam variasi berbeda yakni Jalan Kartini, Jalan RA. Kartini, Jalan Raya Kartini, Jalan Raden Ajeng Kartini. Hal ini menunjukkan bahwa satu tokoh yang sama bisa muncul dalam beberapa penamaan di lokasi berbeda.

Hal yang menarik, nama Kartini mendominasi. Dari 18 nama jalan tokoh perempuan, setidaknya empat di antaranya merujuk pada sosok yang sama: R.A. Kartini. Artinya, jika kita berbicara tentang keberagaman perempuan yang diabadikan, angkanya bahkan lebih kecil dari yang terlihat.

Bandingkan dengan sisi lain: 224 nama jalan tokoh laki-laki mencakup figur dari berbagai latar belakang yakni jenderal, dokter, ulama, politikus, pahlawan lokal, hingga raja-raja dari era kerajaan Nusantara. Ada Jenderal Sudirman, Ahmad Yani, MT Haryono, Dokter Saharjo, Tahi Bonar Simatupang, Hayam Wuruk, Gajah Mada, dan ratusan nama lainnya. Keragaman yang jauh lebih luas dan itu sendiri saja sudah menunjukan banyak hal.

Kenapa Perempuan Nyaris Tidak Ada

Ada beberapa hal yang bisa diperhatikan: Pertama, ada hal tentang soal siapa yang dianggap layak diingat secara publik. Nama jalan, seperti yang diargumentasikan Rusu (2022), adalah instrumen dalam toolkit konstruksi identitas politik sebuah rezim. Ketika sebuah pemerintahan memutuskan siapa yang namanya akan diabadikan di jalan-jalan kota, keputusan itu tidak lahir dari ruang hampa tetapi ia lahir dari narasi kuat tentang siapa yang dianggap berjasa, heroik, dan layak dikenang. Secara historis, narasi itu selalu lebih mudah memberikan tempat kepada laki-laki.

Kedua, ada hal tentang soal bagaimana perempuan direpresentasikan dalam sejarah resmi. Penelitian di berbagai kota Eropa menunjukkan bahwa perempuan yang namanya diabadikan di jalan seringkali dikenal bukan karena pencapaian otonom mereka, melainkan karena hubungan mereka dengan laki-laki terkenal, sebagai istri, ibu, atau anak perempuan (Rusu, 2022). Di Jabodetabek, meski tokoh-tokoh seperti Rasuna Said dan Malahayati jelas diakui atas kontribusi mereka sendiri, kehadirannya di peta jalan tetap sangat minim.

Ketiga adalah hal yang paling mendasar, yakni soal struktur pengambilan keputusan itu sendiri. Siapa yang duduk di meja ketika nama jalan diputuskan? Jika ruang itu didominasi oleh perspektif tertentu, maka hasilnya pun akan mencerminkan perspektif tersebut.

Pola yang Sama di Berbagai Penjuru Dunia

Fenomena temuan tentang ketimpangan nama-nama jalan eponimikal terhadap perempuan di Jabodetabek ini juga terjadi di berbagai kota besar di Indonesia. Di Bucharest, hanya 6,06% dari nama jalan eponimikal yang mengabadikan perempuan. Di Paris, 7,70%. Di Roma, 7,11%. Di Vienna, meski 64,40% dari seluruh nama jalan menggunakan nama orang, hanya 8,24% di antaranya yang merujuk pada perempuan (Rusu, 2022). Di Slovakia, sebuah studi terhadap delapan kota menemukan bahwa nama jalan perempuan hanya menyumbang 5% dari keseluruhan nama eponimikal dan di beberapa kota, tidak ada satu pun jalan yang dinamai setelah perempuan (Bucher et al., 2013, dalam Rusu, 2022).

Artinya, apa yang ditemukan di Jabodetabek bukan sekadar persoalan lokal semata. Ini adalah pola global dari bagaimana ruang publik termasuk nama-nama jalan secara sistematis lebih banyak mengabadikan laki-laki dibanding perempuan. Rusu (2022) menyebutnya sebagai “masculine default” yakni sebuah prinsip tak tertulis yang menjadi pondasi dari cara kota-kota membangun ingatannya.

Arti dari Persoalan Ini

Fenomena penamaan jalan di kawasan metropolitan Jabodetabek tidak semata-mata dapat dipahami sebagai persoalan statistik atau administrasi kota. Di balik praktik tersebut, terdapat dimensi nilai dan representasi sosial yang lebih mendalam. Toponimi, dalam hal ini nama jalan, berfungsi sebagai medium simbolis yang membentuk memori kolektif masyarakat. Berbeda dengan monumen fisik yang terletak di lokasi tertentu, nama jalan hadir secara egaliter dalam ruang publik dan menjadi bagian dari interaksi sehari-hari jutaan orang. Justru karena sifatnya yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, ia memiliki daya yang signifikan dalam membangun ingatan kolektif.

Data menunjukkan bahwa 92,6% nama jalan di Jabodetabek yang diambil dari nama tokoh merujuk pada laki-laki. Ketimpangan ini menyampaikan pesan implisit bahwa kontribusi perempuan dianggap kurang layak untuk diabadikan dalam ruang publik. Oleh karena itu, sejarah yang tercermin melalui penamaan jalan menjadi parsial, menegaskan dominasi maskulinitas dalam konstruksi memori kolektif. Absennya representasi perempuan dalam papan nama jalan bukan sekadar kekosongan simbolis, melainkan juga bentuk eksklusi terhadap pengalaman dan pencapaian mereka dalam sejarah bangsa.

Oleh karena itu, kota yang berorientasi pada keadilan sosial perlu meninjau ulang praktik penamaan jalan sebagai instrumen representasi. Pertanyaan yang harus diajukan bukan hanya terkait siapa yang diabadikan, tetapi juga siapa yang selama ini tidak hadir dalam lanskap simbolik tersebut.

Kontribusi Data Demi Representasi Data yang Lebih Akurat

Terlepas dari kurangnya representasi perempuan dalam penamaan jalan, namun aspek kurangnya data spasial di wilayah urban tetaplah perlu dipertimbangkan. Kompleksitas lanskap urban mengakibatkan sulitnya pendataan komperhensif, utamanya dikarenakan kebanyakan data terkait penamaan jalan didapatkan via lapangan dan memerlukan konteks lokalitas bagi setiap daerah. Tak menutup kemungkinan, banyak data historis terkait tokoh-tokoh setempat yang tidak sempat terdata secara digital, yang kemudian diadopsi menjadi nama jalan-jalan lokal dan kecil di area tertentu, terutama tokoh perempuan. Atas dasar hal ini, kontribusi data lokal menjadi penting demi mengetahui representasi data secara akurat secara detail.

Fitur-fitur geotagging via web yang disediakan oleh platform openstreetmap dapat menjadi jawaban atas permasalahan tersebut. Openstreetmap yang menjadi wadah kontribusi data spasial, menyediakan fitur-fitur yang dapat diisi oleh pihak warga setempat yang lebih mengetahui konteks lokal suatu wilayah, utamanya dalam hal penamaan jalan setempat. Pemanfaatan dan sosialisasi kontribusi via OSM bagi warga lokal dapat menjadi langkah-langkah kedepan untuk melengkapi data spasial yang kurang, demi mendata dan mendapatkan aspek historis suatu wilayah lebih komperhensif, terutama memperhatikan betapa tidak imbangnya penamaan jalan dan historis perempuan pada umumnya.

Kontribusi OSM diharapkan dapat mengangkat tokoh-tokoh perempuan yang namanya tidak sempat tercatat dalam sejarah ataupun database penamaan jalan resmi, dan meningkatkan kualitas data secara komperhensif demi mendukung data spasial yang lebih representatif.

Penutup

Analisis dalam tulisan ini didasarkan pada data nama jalan kawasan Jabodetabek yang diperoleh dari OpenStreetMap, dengan total 1.212 nama jalan yang diklasifikasikan ke dalam tiga kategori: tokoh perempuan, tokoh laki-laki, dan lainnya. Kerangka teoretis mengacu pada artikel Rusu, Mihai S. (2022), “Gendering Urban Namescapes: The Gender Politics of Street Names in an Eastern European City”, Names: A Journal of Onomastics, Vol. 70, No. 2, Spring 2022, DOI: 10.5195/names.2022.2233.